Profil Angkie Yudistia: Staf Khusus Presiden Jokowi dan Inspirator Penyandang Disabilitas
Sumber Foto: MataMata.com
Fakta Khusus

Profil Angkie Yudistia: Staf Khusus Presiden Jokowi dan Inspirator Penyandang Disabilitas

Angkie Yudistia, seorang wanita berusia 32 tahun yang merupakan penyandang disabilitas tuna rungu, baru-baru ini ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai staf khusus di kepresidenan. Penunjukan ini tidak terlepas dari prestasinya sebagai CEO Thisable Enterprise, sebuah perusahaan yang fokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas.

Prestasi dan Tugas di Kepresidenan

Dalam acara pengumuman di Istana Merdeka, Presiden Jokowi menyatakan bahwa Angkie merupakan contoh inspiratif bagi generasi muda, terutama bagi mereka yang memiliki disabilitas. "Angkie adalah anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak di sociopreneur melalui Disable Enterprise. Dia juga aktif sebagai anggota Asia Pacific Deaf Person dan anggota International Federation," ungkap Jokowi.

Selain tugasnya sebagai staf khusus, Jokowi juga menambahkan tanggung jawab baru bagi Angkie sebagai juru bicara presiden di bidang sosial. Hal ini menunjukkan kepercayaan Jokowi terhadap kemampuan Angkie untuk berkontribusi dalam kebijakan sosial di Indonesia.

Perjalanan Hidup yang Inspiratif

Sejak kecil, Angkie sudah mengalami gangguan pendengaran akibat malaria. Meskipun menghadapi berbagai hinaan dan tantangan dari lingkungan sekitarnya, ia memilih untuk tidak menyerah dan terus melangkah maju. Angkie berkeyakinan bahwa setiap orang, termasuk penyandang disabilitas, berhak memiliki cita-cita yang tinggi.

Pendidikan yang Gigih

Angkie menunjukkan bahwa ketidakmampuan tidak menghalangi seseorang untuk meraih pendidikan. Ia berhasil menyelesaikan S1 dan S2 dengan predikat cumlaude meskipun mengalami kesulitan dalam mendengar. "Semua mungkin selama kita yakin. Saya tidak bisa mendengar, tapi saya bisa melihat dan berusaha mengakses informasi dengan cara lain," ujarnya dalam sebuah acara yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI dan WHO.

Tantangan di Dunia Kerja

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Angkie menemukan bahwa banyak perusahaan yang meragukan kemampuan penyandang disabilitas. Menyadari hal ini, ia mengambil langkah untuk memulai bisnisnya sendiri, bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja bagi orang-orang dengan disabilitas. "Saya merasa banyak komunitas disabilitas yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, hingga akhirnya saya merasa harus membuat perubahan," tuturnya.

Perwakilan Disabilitas di Pemerintahan

Angkie Yudistia menjadi satu-satunya penyandang disabilitas yang menjabat sebagai staf khusus presiden. Dalam pernyataannya, ia menyatakan kebanggaannya mewakili Disable Enterprise yang telah dibangunnya selama delapan tahun. "Sudah waktunya disabilitas bukan kelompok minoritas. Mudah-mudahan saya bisa bekerja lebih baik dan bersama teman-teman yang hebat di sini, menjadikan Indonesia lebih ramah disabilitas," harapnya.