Kejadian Kontroversial di Gunung Semeru: Pria Menendang Sesajen Dikecam Publik
Sumber Foto: Suara.com
Fakta Khusus

Kejadian Kontroversial di Gunung Semeru: Pria Menendang Sesajen Dikecam Publik

Publik geram menyusul viralnya video seorang pria yang menendang sesajen di kawasan Gunung Semeru, Jawa Timur. Aksi tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak, mengingat menaruh sesajen merupakan tradisi penting bagi masyarakat setempat.

Tradisi ini dipegang oleh warga sekitar sebagai wujud harapan untuk keselamatan dan agar Gunung Semeru tidak mengalami erupsi kembali. Ketika mengetahui insiden tersebut, warga langsung melaporkannya ke pihak kepolisian, mengingat kemarahan yang meluas di kalangan masyarakat.

Aksi Menendang Sesajen Viral di Media Sosial

Aksi pria tersebut terjadi di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Dalam video yang beredar, terlihat seorang pria menendang sebuah baskom berwarna biru yang berisi sesajen dari warga setempat. Pelaku diduga melakukan tindakannya sambil melafalkan takbir.

Setelah menendang baskom tersebut, pria itu terlihat membuangnya ke tepi jurang. Video kemudian menunjukkan seorang pria berpakaian abu-abu dan berompi hitam, yang diduga sebagai pelaku, sebelum perekam video berpindah ke lokasi lain.

Di lokasi berikutnya, terlihat sebuah sajen lain yang diletakkan di atas batu, yang juga dibuang dengan sembarangan oleh perekam video. Diduga, pelaku pembuangan ini adalah orang yang sama dengan perekam video.

Pernyataan Bupati Lumajang

Bupati Lumajang, Thoriqul Haq, mengkonfirmasi bahwa pelaku penendang sesajen bukanlah warga lokal. Ia menduga bahwa pelaku merupakan orang luar yang sedang berada di kawasan Gunung Semeru sebagai relawan.

"Saya pastikan (pelaku) bukan orang Lumajang. Ini orang yang datang dari luar," ujar Thoriqul, menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai masyarakat lokal.

Kejadian ini telah memicu reaksi keras dari masyarakat dan diharapkan dapat segera ditindaklanjuti oleh pihak berwenang untuk menjaga ketenteraman dan menghormati tradisi lokal.