Sejarah Gerbong Jenazah Pakubuwono X dan Nasibnya di Surakarta
Sumber Foto: Suarasurakarta.id
Fakta Khusus

Sejarah Gerbong Jenazah Pakubuwono X dan Nasibnya di Surakarta

Gerbong jenazah yang dipesan khusus oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X, raja Kasunanan Surakarta, memiliki sejarah yang menarik dan penuh makna. Dikenal sebagai sosok visioner, Pakubuwono X tidak hanya mempersiapkan prosesi kematiannya, tetapi juga melakukan inovasi dalam pembangunan infrastruktur modern di wilayah Surakarta.

Persiapan Terakhir Seorang Raja

Pada tahun 1909, Pakubuwono X memesan gerbong kereta khusus untuk mengantarkan jenazahnya. Gerbong yang selesai dibuat pada tahun 1910 ini baru digunakan pada 22 Februari 1939, setelah wafatnya Pakubuwono X. Gerbong tersebut mengantarkan jenazahnya dari Stasiun Balapan di Surakarta menuju Yogyakarta, sebelum akhirnya dibawa ke makam raja-raja Mataram di Imogiri menggunakan kereta kuda.

Infrastruktur Modern di Era Pakubuwono X

Pakubuwono X memerintah dari tahun 1893 hingga 1939, dan selama masa pemerintahannya, ia banyak berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur. Beberapa proyek penting yang dilakukannya antara lain:

  • Pembangunan Pasar Gede, yang masih menjadi pusat transaksi warga hingga kini.
  • Pembangunan Jembatan Jurug yang menghubungkan Kota Surakarta dengan Kabupaten Karanganyar.
  • Pembangunan berbagai fasilitas publik, seperti sekolah, rumah sakit, dan stadion Sriwedari.
  • Pembangunan sarana transportasi umum, termasuk dua stasiun kereta api di Surakarta.

Pakubuwono X juga dikenal sebagai raja pertama di Indonesia yang memiliki mobil, yaitu mobil Benz Victoria Phaeton yang dibeli pada tahun 1894. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian dan ambisinya terhadap perkembangan transportasi.

Nasib Gerbong Jenazah Setelah Digunakan

Setelah digunakan untuk mengantarkan jenazah Pakubuwono X, gerbong jenazah tersebut dibiarkan tidak terpakai dan tersimpan di Balai Yasa Yogyakarta selama bertahun-tahun. Pada tahun 1997, gerbong ini dipindahkan ke Surakarta dan mengalami proses restorasi. Proses tersebut termasuk mengubah lebar roda agar dapat melintasi jalur rel dari Yogyakarta ke Surakarta.

Saat ini, gerbong jenazah yang terletak di Alun-Alun Selatan Surakarta tidak dapat diakses secara langsung oleh pengunjung. Mereka hanya dapat melihatnya dari balik gorden jendela. Gerbong ini dilengkapi dengan tatakan khusus untuk meletakkan peti jenazah serta kursi untuk keluarga yang mengantarkan.

Walaupun kini gerbong jenazah tersebut tidak lagi berfungsi untuk tujuan asalnya, sejarah dan maknanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat Surakarta dan menjadi bagian dari warisan budaya yang penting.