Pakar: ‘Rajawali’ BIN Bukan Pasukan Khusus, Melainkan Intelijen Khusus Lulusan STIN
Nama ‘Pasukan Khusus Rajawali’ Badan Intelijen Negara (BIN) menjadi perbincangan setelah muncul unggahan Ketua MPR Bambang Soesatyo. Menanggapi hal itu, pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati menilai ‘Rajawali’ bukan pasukan khusus, melainkan unsur intelijen khusus (intelsus) yang berisi taruna-taruni serta agen terpilih.
“Intelijen khusus Rajawali bukan pasukan khusus, namun taruna/taruni dan para agen lulusan STIN dan Seno (BIN) yang terpilih dididik untuk memiliki kemampuan intelsus termasuk kemampuan intelijen tempur (intelpur),” kata Susaningtyas dalam keterangan kepada wartawan, Senin (14/9/2020).
Viral setelah tampil dalam video BIN
Pembahasan mengenai ‘Rajawali’ menguat setelah beredar video viral di media sosial yang menampilkan atraksi kelompok bersenjata laras panjang. Atraksi itu disebut berlangsung dalam kegiatan Inaugurasi Peningkatan Statuta Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Plaza STIN, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (9/9).
Disebut dibekali kemampuan menghadapi ancaman di lapangan
Perempuan yang akrab disapa Nuning itu menjelaskan, tim intelijen tersebut dipersiapkan untuk penugasan operasi intelijen penting yang menuntut kemampuan menghadapi ancaman di lapangan.
Ia mencontohkan kebutuhan pemahaman menghadapi kelompok bersenjata, termasuk pada wilayah yang disebut memiliki titik gawat (red spot) seperti di Papua. Menurutnya, pembekalan kemampuan intelijen khusus dan intelijen tempur diperlukan agar mereka lebih siap saat bergabung dengan satuan tugas TNI/Polri.
“Seharusnya masyarakat bangga siswa STIN memiliki soft skill yang hebat,” ujarnya.
STIN disebut pemasok utama SDM BIN
Nuning juga menyinggung Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara yang menyebut STIN sebagai pemasok sumber daya manusia utama untuk BIN. Karena itu, ia menyatakan STIN terus mengembangkan pendidikan dan pelatihan guna mendukung peningkatan kemampuan BIN.
Menurutnya, siswa STIN perlu memiliki berbagai keterampilan untuk kebutuhan tugas di lapangan, seperti bela diri, kemampuan siber, serta keahlian forecasting.
Harap pro-kontra memperkuat profesionalisme
Nuning menambahkan, ke depan akan ada kedeputian baru yang membidangi aparatur sipil negara (ASN) dan membutuhkan tenaga ahli, termasuk di bidang psikiatri dan psikologi forensik, ilmu perilaku atau profiling, serta sosiolog yang memahami perilaku sosial aparatur negara.
Ia berharap pro dan kontra mengenai ‘Rajawali’ dapat menjadi momentum agar BIN semakin kuat dan profesional. Menurutnya, pengembangan sumber daya manusia dan teknologi juga menjadi bagian dari kemajuan yang dicapai pada era kepemimpinan Kepala BIN Jenderal Polisi (Purn) Prof Budi Gunawan.




