UMY Kembangkan Skema Distribusi Dokter Spesialis untuk Atasi Ketimpangan Layanan Kesehatan
11:41
Dokter Spesialis UMY – Ketimpangan distribusi dokter spesialis masih menjadi persoalan serius dalam sistem kesehatan Indonesia. Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, dokter spesialis masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Sementara itu, banyak daerah, termasuk wilayah terluar, terpencil, dan tertinggal, masih kekurangan tenaga medis dengan kompetensi spesialis.
Presiden Prabowo Subianto bahkan menargetkan pencetakan 70.000 dokter spesialis baru dalam sepuluh tahun ke depan. Namun, tanpa kebijakan distribusi yang tepat, peningkatan jumlah dokter spesialis berpotensi tidak menyelesaikan persoalan ketimpangan layanan kesehatan.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) merespons tantangan tersebut tidak hanya dengan membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), tetapi juga dengan merancang sistem distribusi lulusan sejak tahap awal pendidikan.
Wakil Rektor UMY Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Prof. Faris Al-Fadhat, Ph.D., menegaskan bahwa penyelenggaraan PPDS di UMY sejak awal diarahkan untuk memberikan dampak sosial yang nyata, bukan sekadar menambah jumlah lulusan dokter spesialis.
“Masalah utama kita hari ini bukan hanya kekurangan dokter spesialis, tetapi juga distribusinya yang timpang. Dokter spesialis lebih banyak berada di kota besar, sementara daerah-daerah yang justru membutuhkan masih kekurangan,” ujar Faris dalam keterangannya pada Jumat (6/2).
Saat ini, UMY telah mengelola 12 Program Pendidikan Dokter Spesialis, termasuk PPDS Ilmu Kesehatan Mata dan Neurologi yang baru saja memperoleh izin dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Namun, menurut Faris, fokus utama UMY bukan hanya pada pembukaan program studi, melainkan pada kehadiran lulusan PPDS di wilayah yang benar-benar membutuhkan layanan kesehatan spesialis.
“Dalam setiap kebijakan pengembangan institusi, UMY selalu menjadikan dampak sosial sebagai fondasi. Pendidikan dokter spesialis harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat, terutama di daerah yang selama ini kurang terlayani,” imbuhnya.
Dua Skema Penerimaan
Berbeda dengan pendekatan konvensional, UMY menerapkan pemetaan sejak awal dalam proses rekrutmen mahasiswa PPDS. Calon peserta didik diseleksi dengan mempertimbangkan latar belakang domisili, termasuk asal daerah di luar Jawa serta wilayah terluar, terpencil, dan tertinggal.
Baca juga: UMY Tambah Dua PPDS Baru: Ilmu Kesehatan Mata dan Neurologi
“Kami memetakan asal calon mahasiswa sejak awal. Mereka yang berasal dari daerah yang membutuhkan dokter spesialis memiliki peluang lebih besar, karena secara empiris mereka cenderung kembali dan mengabdi di daerah asalnya,” jelas Faris.
Selain itu, UMY juga mengembangkan skema kerja sama dengan pemerintah daerah sebagai bagian dari strategi distribusi lulusan. Dalam skema ini, pemerintah daerah dapat terlibat dalam pembiayaan pendidikan PPDS, baik secara penuh maupun parsial, dengan komitmen pengabdian lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.
Faris menekankan bahwa keterlibatan pemerintah daerah akan disertai dengan kontrak kerja yang jelas. Dengan demikian, setelah lulus, dokter spesialis tidak kembali terkonsentrasi di kota besar, tetapi mengabdi di daerah yang memang membutuhkan.
Pendekatan ini dinilai sebagai solusi konkret atas persoalan klasik pendidikan dokter spesialis, yakni lulusan yang kembali menumpuk di pusat-pusat layanan kesehatan perkotaan. Tanpa intervensi sejak hulu, ketimpangan distribusi akan terus berulang meskipun jumlah dokter spesialis terus bertambah.
“Kalau hanya mencetak tanpa mengatur distribusi, masalahnya tidak akan selesai. Karena itu, sejak awal kami desain PPDS ini agar lulusannya benar-benar berdampak,” tegasnya.
Sebagai kampus berbasis nilai dan dampak sosial, UMY menempatkan pendidikan dokter spesialis sebagai bagian dari misi kemanusiaan Muhammadiyah. Konsistensi Muhammadiyah dalam membangun layanan kesehatan, melalui rumah sakit, klinik, hingga pendidikan tenaga medis, menjadi landasan kuat dalam pengembangan PPDS di UMY.
“UMY bersyukur diberi kepercayaan untuk ikut mengambil peran. Kami ingin memastikan bahwa kontribusi ini benar-benar dirasakan, terutama oleh masyarakat di daerah-daerah yang selama ini sulit mengakses layanan dokter spesialis,” pungkas Faris. (ID)




