Strategi Keuangan Cerdas Selama Ramadan
Sumber Foto: RRI.co.id
Lifestyle

Strategi Keuangan Cerdas Selama Ramadan

RRI.CO.ID, Jember – Bulan suci Ramadan kerap diiringi dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga. Lonjakan harga kebutuhan pokok, maraknya bazar Ramadan, hingga tradisi buka bersama sering kali menjadi penyebab kebocoran anggaran. Tanpa perencanaan yang matang, kondisi keuangan berpotensi memburuk setelah Hari Raya Idulfitri.

Menyikapi hal tersebut, Koordinator Program Studi Akuntansi Sektor Publik Politeknik Negeri Jember, Arisona Ahmad, mengimbau sivitas akademika untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat disiplin finansial. Menurutnya, ilmu akuntansi tidak hanya bersifat teoritis, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Ramadan adalah momentum untuk memperkuat disiplin keuangan bagi seluruh mahasiswa dan pegawai,” ujar Arisona, Kamis, 26 Februari 2026.

Ia menyarankan mahasiswa menerapkan sistem anggaran mingguan yang ketat dengan memprioritaskan kebutuhan utama, seperti sahur dan berbuka sederhana, dibandingkan mengikuti tren nongkrong berbayar. Selain itu, pencatatan pengeluaran harian dinilai penting untuk memantau sisa uang saku agar tidak cepat habis.

“Buka bersama boleh, tetapi tetap harus sesuai dengan anggaran yang sudah direncanakan sejak awal,” imbuhnya.

Bagi pegawai, Arisona menekankan pentingnya pengelolaan Tunjangan Hari Raya (THR). Ia mengingatkan agar THR tidak dihabiskan hanya untuk konsumsi sesaat, melainkan dialokasikan secara proporsional guna menjaga stabilitas keuangan keluarga.

“Jangan habiskan THR untuk konsumsi sesaat saja. Perencanaan yang baik hari ini akan memberikan ketenangan setelah Idulfitri,” jelasnya.

Sebagai panduan praktis, Arisona memperkenalkan prinsip alokasi keuangan 60-20-10-10. Sebanyak 60 persen digunakan untuk kebutuhan pokok, 20 persen untuk ibadah dan sosial, 10 persen untuk gaya hidup, serta 10 persen sebagai tabungan atau persiapan masa depan.

Selain itu, ia mengingatkan agar masyarakat kampus mampu mengendalikan “lapar mata” saat berbelanja di bazar Ramadan maupun melihat promo belanja daring. Membuat daftar belanja sebelum ke pasar dan menghindari belanja saat perut lapar dinilai efektif untuk mencegah pembelian barang yang tidak dibutuhkan.

“Ingat bahwa diskon bukan berarti kebutuhan. Jangan terjebak pada keinginan konsumtif yang berlebihan,” tegas Arisona.

Menurutnya, Ramadan juga menjadi waktu terbaik untuk memaksimalkan sedekah tanpa mengganggu arus kas pribadi, asalkan dana sosial direncanakan sejak awal bulan. Efisiensi dan pengendalian diri, lanjutnya, mencerminkan kualitas insan pendidikan vokasi yang cerdas dan bertanggung jawab.

“Disiplin mengelola keuangan adalah tanggung jawab moral dan profesional kita sebagai insan akademik. Semoga Ramadan tahun ini mampu memperkuat literasi dan ketahanan keuangan kita semua,”ujarnya.