Solidaritas SEAblings: Respons Asia Tenggara Terhadap Rasisme KNetz
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Solidaritas SEAblings: Respons Asia Tenggara Terhadap Rasisme KNetz

BEBERAPA pekan terakhir, jagat digital Asia Tengagra dan Korea Selatan memanas. Istilah baru lahir dari rahim ketegangan lintas batas, yaitu SEAblings.

Akronim dari South East Asia Siblings ini adalah manifestasi solidaritas digital kolektif antara netizen Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Mereka bersatu meluncurkan "serangan balik" terhadap apa yang dipersepsikan sebagai kesombongan dan rasisme sistemik dari sebagian netizen Korea Selatan (KNetz).

Pemicunya adalah insiden di konser band DAY6 di Kuala Lumpur pada awal Februari 2026. Beberapa “fansite master” asal Korea dilaporkan melanggar aturan promotor lokal dengan membawa kamera profesional.

Ketika ditegur oleh penonton setempat, mereka justru merespons dengan sikap agresif. Bahkan KNetz membalas dengan narasi yang cenderung merendahkan, menyebut warga Asia Tenggara sebagai "penduduk miskin", menghina warna kulit, hingga melontarkan ejekan fisik yang terbilang cukup kasar.

Sebenarnya ini bukan luka pertama bagi warganet Asia Tenggara. Rekam jejak rasisme digital dari Semenanjung Korea terhadap Asia Tenggara memiliki sejarah panjang.

Publik Indonesia tentu ingat skandal forum "Indosarang" pada 2024, di mana para pekerja Korea di Indonesia ketahuan melontarkan hinaan terhadap agama dan fisik orang lokal.

Atau jauh sebelumnya, bagaimana rasisme terhadap Lisa BLACKPINK karena latar belakang Thailand-nya.

Jadi perseteruan hari ini adalah bagian dari evolusi perang semantik, di mana SEAblings mulai kehabisan kesabaran dan membalas dengan isu-isu sensitif Korea seperti tingkat kelahiran yang rendah (zero birth rate), standar kecantikan yang obsesif, hingga tekanan sosial yang memicu angka bunuh diri tinggi.

Namun, di balik riuhnya adu komentar ini, sebenarnya terdapat realitas pergeseran geoekonomi yang cukup serius.

Jika dilihat dari kacamata diplomasi, Korea Selatan sebenarnya sedang mempertaruhkan masa depan strategisnya.

Perseteruan ini bukan lagi sekadar bising di kolom komentar, tapi berpotensi menjadi ancaman terhadap pondasi ekonomi dan pengaruh politik Seoul di kawasan selatan.

Di Seoul, para perumus kebijakan luar negeri sudah lama menyadari bahwa masa depan Korea tidak bisa lagi hanya bergantung pada "empat kekuatan besar" (AS, China, Jepang, Rusia). Maka lahirlah New Southern Policy (NSP) dan versi mutakhirnya, NSP Plus.

Kebijakan ambisius ini dirancang untuk mengangkat derajat hubungan Korea Selatan - ASEAN setara dengan hubungan mereka dengan Washington atau Beijing.

Tujuannya jelas, yakni diversifikasi ekonomi, penguatan keamanan maritim, dan penciptaan komunitas yang berpusat pada manusia (people-centered community).