Rupiah Diprediksi Melemah Pekan Depan Terpengaruh Kebijakan The Fed dan Geopolitik
Nilai tukar rupiah diproyeksikan berisiko melemah pada perdagangan pekan depan, meskipun sempat ditutup menguat tipis pada Jumat, 20 Februari 2026. Pergerakan mata uang Garuda ini masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global, terutama sikap hawkish Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed) dan ketegangan geopolitik yang terus membayangi pasar keuangan.
Pada penutupan perdagangan Jumat sore, rupiah tercatat menguat tipis 6 poin ke level Rp 16.888 per dolar AS, setelah sempat menguat 25 poin dari penutupan sebelumnya di Rp 16.894. Namun, pada pembukaan perdagangan pagi hari yang sama, rupiah sempat melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp 16.903 per dolar AS. Secara mingguan, kurs rupiah di pasar spot tercatat melemah 0,31 persen dari posisi Rp 16.836 per dolar AS pada Jumat (13/2).
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Proyeksi Pergerakan Rupiah Pekan Depan
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada perdagangan pekan depan. Ia memperkirakan rupiah akan berada di rentang Rp 16.880 hingga Rp 16.910 per dolar AS. Senada, Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva, memprediksi nilai tukar rupiah sepekan ke depan akan relatif stabil dengan kecenderungan melemah terbatas pada rentang Rp 16.800 – Rp 16.950 per dolar AS.
Tekanan Eksternal Dominasi Pasar
Sentimen eksternal menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah. Risalah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Januari 2026 menunjukkan nada hawkish di antara para pembuat kebijakan Federal Reserve. Hal ini memperkuat pandangan bahwa pemotongan suku bunga jangka pendek tidak mungkin terjadi, yang pada gilirannya menjaga stabilitas dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah.
Data ekonomi AS yang optimis juga turut memperkuat posisi dolar AS. Klaim pengangguran awal untuk minggu yang berakhir pada 14 Februari 2026, misalnya, turun menjadi 206 ribu, jauh di bawah perkiraan 225 ribu. Selain itu, survei Manufaktur Federal Reserve Philadelphia juga menunjukkan kenaikan ke 16,3 pada Februari.
Di sisi lain, risiko geopolitik global, khususnya ketegangan antara AS dan Iran, terus menjadi sentimen penekan. Laporan mengenai pengerahan militer AS di Timur Tengah dan pernyataan terkait program nuklir Iran menambah ketidakpastian di pasar.
Kebijakan Bank Indonesia dan Sentimen Domestik
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility 5,50 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan untuk penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Perry Warjiyo juga menyatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini dinilai rendah (undervalued) jika dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, termasuk inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang stabil di sekitar 5 persen. BI akan terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing.
Sentimen positif datang dari kesepakatan perjanjian perdagangan resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Perjanjian ini mencakup 11 nota kesepahaman (MoU) dan diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi. Namun, permintaan valuta asing (valas) korporasi domestik yang meningkat seiring aktivitas ekonomi juga turut memberikan tekanan jangka pendek pada rupiah.
Prospek Jangka Panjang
Meskipun menghadapi tekanan jangka pendek, beberapa ekonom memprediksi rupiah berpeluang menguat pada paruh kedua tahun 2026. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan nilai tukar rupiah akan stabil di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.800 per dolar AS pada akhir tahun 2026, dengan asumsi sentimen pasar mereda. Senada, Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memperkirakan rupiah akan masuk fase penguatan mulai Agustus hingga akhir tahun jika tekanan global mereda dan ekonomi domestik berjalan sesuai desain pemerintah.




