Prospek Harga Emas 2026: Dipengaruhi Tensi Geopolitik dan Permintaan Bank Sentral
World Gold Council (WGC) merilis laporan terbaru mengenai prospek pasar emas global untuk tahun 2026. Dalam analisisnya, ketegangan geopolitik diprediksi akan tetap menjadi faktor penentu utama yang mendorong kinerja emas, didukung oleh peningkatan permintaan dari bank sentral serta arus masuk investasi melalui ETF (Exchange Traded Fund).
Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) and Global Head of Central Banks dari World Gold Council (WGC) menjelaskan di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, premi risiko di berbagai aset kemungkinan besar akan terus meningkat. Kondisi ini memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai di segala kondisi (all-weather hedge).
WGC mencatat beberapa faktor makro ekonomi utama yang mendukung kekuatan emas pada tahun 2026, di antaranya, penurunan suku bunga riil sebaai akibat dari imbal hasil obligasi AS yang menunjukkan tren menurun. Kedua, skor risiko geopolitik negara-negara G7 terus meningkat, yang berdampak pada volatilitas pasar obligasi. Ketiga, pasar saham yang dinilai priced for perfection membuat investor mencari diversifikasi pada aset aman. Keempat, nilai tukar riil efektif (REER) Dolar AS yang masih tergolong tinggi memberi ruang bagi emas untuk bersinar.
Meskipun permintaan emas perhiasan diproyeksikan tetap lesu akibat tingginya harga, sektor investasi menunjukkan gairah yang kuat.
“Di pasar utama seperti India dan Tiongkok, terjadi pergeseran bertahap lantaran konsumen mulai beralih dari perhiasan ke investasi murni dalam bentuk emas batangan dan koin,” jelas Shaokai dalam paparannya di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
"Permintaan ETF emas di Amerika Utara sangat kuat pada 2025, dan meskipun kepemilikannya masih rendah dibanding aset lain, ruang pertumbuhan bagi investor untuk menambah posisi masih sangat besar," lanjutnya. Selain itu, minat investasi di Eropa yang sebelumnya tertinggal juga mulai menunjukkan perbaikan signifikan.
Salah satu poin krusial dalam laporan ini adalah posisi emas dalam cadangan devisa resmi. Grafik menunjukkan bahwa emas kembali memperkuat posisinya dibandingkan mata uang lain seperti dolar atau pun euro. Meski prediksi fase pembelian bank sentral di masa depan cukup menantang karena harga yang sudah tinggi, emas tetap dianggap sebagai aset strategis untuk diversifikasi cadangan devisa global.
“Alasannya kenapa bank sentral tetap memilih mempertebal porsi emas dalam cadangan devisa mereka, kami tidak tahu persisnya, tetapi memang sudah sejak lima tahun terakhir trennya demikian dan kedepan meskipun harga akan cukup tinggi tetapi kami proyeksinya pembelian emas oleh bank sentral tetap akan tinggi dan menjadi salah satu motor penggerak permintaan,” jelas Shaokai.
Menariknya, meskipun harga emas mencapai level tinggi, respons masyarakat untuk menjual kembali emas mereka (daur ulang) masih terbatas.“Hal ini disebabkan oleh ekspektasi masyarakat bahwa harga emas akan terus merangkak naik, sehingga mereka lebih memilih untuk menyimpan asetnya,” jelas Shaokai.
“Melihat tahun yang akan datang, melihat tahun yang akan datang, dengan berlanjutnya ketegangan geopolitik kami memperkirakan arus masuk ETF emas akan tetap kuat dan permintaan emas batangan serta koin tetap solid. Sedangkan, permintaan perhiasan emas tetap lemah karena harga emas yang terus tinggi,” pungkas Shokai.(*)




