Penjelasan Mengenai Klaim Gempa Turki Akibat Teknologi HAARP
Sumber Foto: Liputan6.com
Fakta Kilat

Penjelasan Mengenai Klaim Gempa Turki Akibat Teknologi HAARP

Pada 9 Februari 2023, sebuah unggahan di media sosial menyebarkan klaim bahwa gempa yang terjadi di Turki disebabkan oleh fenomena kilat yang dihasilkan dari teknologi High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP). Unggahan tersebut mengaitkan gempa di Turki dengan gempa sebelumnya di Meksiko dan Maluku, dengan menyatakan bahwa tidak ada gempa yang disertai petir kecuali ada campur tangan manusia.

Penyelidikan Klaim

Menanggapi klaim ini, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, melalui Twitter menjelaskan bahwa kemunculan kilat saat gempa berlangsung dapat terjadi akibat tekanan hebat yang dialami oleh batuan di kulit bumi, mendekati batas elastisitasnya. Hal ini menyebabkan pelepasan gelombang elektromagnetik yang dikenal sebagai 'lightning during the earthquake' atau pencahayaan gempa.

Daryono juga menjelaskan bahwa fenomena ini pernah terjadi pada gempa Sumogawe di lereng utara Merbabu pada tahun 2014. Ia menekankan bahwa mengaitkan gempa dengan teknologi HAARP adalah angan-angan yang tidak berdasar.

Fakta Tentang HAARP

HAARP adalah program penelitian yang bertujuan untuk mempelajari sifat dan perilaku ionosfer. Meskipun teknologi ini ada, hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan adanya hubungan antara HAARP atau teknologi buatan manusia lainnya dengan bencana alam, termasuk gempa bumi.

Menurut informasi dari situs resmi HAARP, program ini merupakan pemancar berfrekuensi tinggi yang digunakan untuk eksplorasi ionosfer. Pada tahun 2015, pengoperasian fasilitas penelitian ini dipindahkan dari Angkatan Udara AS ke University of Alaska Fairbanks, yang memungkinkan kelanjutan penelitian dalam bidang tersebut.

Kesimpulan

Hasil penelusuran menunjukkan bahwa klaim yang mengaitkan fenomena kilat yang terjadi saat gempa di Turki dengan teknologi HAARP adalah tidak benar. Cahaya yang terlihat saat gempa adalah hasil dari pelepasan gelombang elektromagnetik, bukan akibat dari rekayasa manusia.