Panduan Puasa Nyaman untuk Anak: Motivasi dan Persiapan yang Tepat
1. Memberikan motivasi untuk berpuasa
Secara agama, anak-anak memang belum wajib berpuasa. Selain menjelaskan bahwa puasa merupakan kewajiban agama, orangtua juga bisa menambahkan motivasi berupa kebanggaan.
Orangtua bisa memberi contoh menjalankan puasa sambil menyampaikan pesan bahwa puasa adalah tradisi keluarga yang penting. Selain itu, orangtua juga bisa mencontohkan saudara maupun kerabat yang masih muda namun ikut berpuasa, kemudian menyampaikan pesan bahwa puasa adalah sebuah prestasi.
Pesan ini akan membuat anak merasa ingin ikut berpartisipasi serta bangga dalam menjalankan tradisi puasa. Lantas, orangtua juga bisa menjelaskan nilai-nilai di balik puasa seperti disiplin diri, empati, dan rasa syukur.
2. Berlatih sebelum berpuasa
Sebelum puasa sesuai dengan ajaran agama, yaitu dari Subuh hingga Magrib, akan lebih baik jika anak-anak menjalankan latihan puasa dengan waktu yang lebih singkat. Tahapan latihan ini bisa disesuaikan dengan tradisi keluarga, misalnya ikut sahur dulu, puasa setengah hari, atau hingga jam tertentu.
Dilansir Johns Hopkins Aramco Healthcare, latihan puasa ini bisa dimulai dengan menunda sarapan satu atau dua jam atau mengurangi camilan di antara waktu makan. Selanjutnya, anak bisa berlatih puasa yang lebih singkat di akhir pekan atau hari-hari tertentu. Pastikan anak-anak dalam kondisi sehat saat melakukan latihan ini.
"Idealnya, puasa harus dilakukan di bawah pengawasan orang dewasa. Orangtua harus memastikan bahwa anak tidak sakit dan tidak melakukan aktivitas fisik intensitas tinggi, yang dapat membuat puasa berisiko," kata Dr. Sueziani Zainudin, seorang konsultan endokrinologi di departemen kedokteran umum Sengkang Health, dikutip dari Sengkang Health.
3. Menjaga puasa pertama tetap terkendali
Ketika anak memutuskan untuk mulai berpuasa, hal yang bisa dilakukan orangtua adalah membuat hari pertama puasa nyaman dan tetap terkendali. Pilihlah hari di mana anak-anak memiliki jadwal yang ringan serta tidak banyak aktivitas fisik. Akan lebih baik, jika puasa pertama dilakukan ketika anak-anak tidak harus bersekolah.
Orangtua juga bisa membantu dengan menyiapkan aktivitas ringan agar anak teralihkan dari rasa lapar. Selanjutnya, tetap perhatikan tanda-tanda ketika tubuh anak menyerah seperti mengalami pusing, sakit kepala, sakit perut, kelelahan yang ekstrem, atau kesulitan berkonsentrasi. Jika hal tersebut terjadi, orangtua juga harus membuat anak membatalkan puasanya.
4. Siapkan sahur bergizi
Sahur yang bergizi seimbang akan membuat anak-anak lebih nyaman menjalani puasa. Orangtua bisa menyiapkan sahur dengan karbohidrat kompleks seperti oatmeal, roti gandum utuh, dan beras merah. Sumber karbohidrat ini melepaskan energi secara perlahan sehingga anak akan tetap berenergi meskipun berpuasa.
Memperbanyak porsi protein juga bisa membantu kenyang lebih lama. Selain itu, tetap berikan sayur dan buah untuk memenuhi serat, vitamin, dan mineral.
Dengan menjaga asupan makana ketika sahur, anak-anak akan mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Selain itu, menjaga asupan makanan juga mencegah turunnya berat badan anak akibat puasa.
5. Perhatikan asupan cairan ketika sahur dan berbuka
Selain makanan, anak-anak juga harus tercukupi kebutuhan asupan cairannya meskipun tengah berpuasa. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan buah yang kaya kandungan air, serta memperbanyak minum air putih ketika sahur dan berbuka.
Sebaiknya, anak tidak mengonsumsi soda atau minukan berkarbonasi ketika berpuasa. Dilansir Saudi German Health, sama seperti makanan yang terlalu asin, minuman berkarbonasi dapat menurunkan kadar cairan tubuh dan membuatnya cepat haus.
Itulah beberapa tips puasa untuk anak. Karena tujuan utama puasa pada anak adalah untuk berlatih, makan sebaiknya fokus untuk membuat mereka nyaman bepuasa. Selain itu, perhatikan kondisi anak dan memintanya untuk membatalkan puasa ketika menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan.




