Panduan Puasa Aman untuk Penderita Diabetes
Sumber Foto: Tempo.co
Lifestyle

Panduan Puasa Aman untuk Penderita Diabetes

DOKTER Spesialis Penyakit Dalam Sub Endokrin Metabolik RSA UGM, Ali Baswedan, menjelaskan bahwa penderita diabetes tetap diperbolehkan untuk menjalan ibadah puasa asal dengan dua syarat. Pertama, jika ingin berpuasa, penderita diabetes wajib berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

“Artinya harus ada izin dari dokter karena itu penting. Dokter lah yang dapat menentukan dapat berpuasa atau tidak,” kata Ali, melalui keterangan tertulis, Rabu, 25 Februari 2026. Syarat kedua adalah tidak boleh melewatkan sahur dan saat berbuka tidak boleh mengonsumsi makan dan minum berlebihan.

Namun begitu, Ali menegaskan tidak semua pasien diabetes diperbolehkan untuk puasa. Mereka yang diizinkan untuk menjalani ibadah tersebut harus tidak memiliki komplikasi penyakit yang berat, seperti tidak ada luka dan mengalami infeksi paru yang sedang aktif. Selain itu, tidak sedang berada pada posisi gula darah yang melonjak atau tidak dalam fase sakit yang akut.

Jika pasien sedang mengalami batuk, pilek, demam, atau terdapat luka di kakinya, tidak perlu memaksakan diri untuk berpuasa. Namun, ia menegaskan bahwa diperbolehkan atau tidak kembali lagi dari izin dokter. “Nanti yang menentukan boleh puasa atau tidak itu dari dokter, karena dokter itu punya riwayatnya,” terangnya.

Pola dan jadwal makan yang teratur saat menjalankan ibadah puasa ini tentu berpengaruh pada kondisi penderita diabetes. Pasalnya, tubuh akan mengalami fluktuasi gula darah yang naik turun. Untuk mengatasi hal ini, Ali mengingatkan agar pasien tidak boleh melewatkan sahur, supaya dapat mencegah gula darah tersebut drop pada siang hari. “Dan tentu pada saat berbuka puasa jangan berlebihan,” katanya.

Ali mengatakan cara yang tepat untuk mengatur waktu makan saat berbuka bagi penderita diabetes. Menurutnya, perlu dibagi tiga kloter untuk konsumsi setelah berbuka, yaitu setelah adzan, sebelum tarawih, dan sesudah. “Jika berbuka puasa secara berlebihan, akan terjadi lonjakan secara berlebihan,” katanya.

Terkait dosis konsumsi obat dokter bagi penderita diabetes, Ali mengatakan terdapat panduan yang menyebutkan pengurangan sepertiga dari dosis biasanya. Namun, Ali mengatakan ia lebih meyakini untuk mengurangi setengah dosis terlebih dahulu, karena memulai dosis kecil itu jauh lebih baik daripada tiba-tiba dikurangi sepertiganya. “Jika mengurangi sepertiga dari dosis, kemungkinan terjadinya drop itu kan lebih besar. Tapi kalau setengah dulu tidak apa-apa,” ungkap Ali.

Ia menambahkan jika sudah menerapkan pola seperti ini selama 45 hari, nanti dilakukan evaluasi. Jika hasil evaluasi perlu menambahkan dosis, dosis baru akan ditambah.

Dalam hal menu yang ideal bagi penderita diabetes, menurutnya, untuk sahur para penyintas perlu mengonsumsi makanan berkarbohidrat kompleks, seperti beras merah, roti gandum, atau oatmeal. Selain itu perlu diperhatikan konsumsi protein dan mewajibkan sayur-sayuran untuk menu sahur.

Ali juga menegaskan perlu minum air putih secukupnya. Untuk menu berbuka sendiri, dapat dimulai dengan konsumsi yang manis-manis terlebih dahulu, tentunya dengan porsi secukupnya. “Pokoknya secukupnya, tapi yang manis-manis memang dianjurkan pada saat buka. Itu yang manis dianjurkan tapi sedikit saja porsinya,” katanya.

Sementara sebelum tarawih sudah diperbolehkan untuk makan nasi dan selepas tarawih perut dapat diisi dengan snack. Tanda-tanda penderita diabetes memiliki gula darah tinggi biasanya dicirikan dengan haus yang berlebihan, kerap bolak-balik ke toilet untuk pipis, lemas, badan sedikit panas, dan mengalami pusing kepala.

Ali mengungkapkan untuk tanda-tanda individu mengalami gula darah rendah adalah lemas yang berlebihan sekaligus berkeringat. Untuk mencegah terjadinya kondisi ini, Ali mengimbau perlu adanya pengecekan gula darah selama tiga sampai empat hari dengan jadwal sebelum sahur, siang hari pada jam 12, dan dua sampai tiga jam sebelum buka.

Ali mengungkapkan bahwa jika penderita mengalami gula rendah yang saat berpuasa mengalami kondisi berdebar-debar, maka wajib membatalkan puasa. ”Wajib dibatalkan karena resiko terjadinya hipoglikemia (gula darah rendah) itu jauh lebih berbahaya,” katanya. Untuk jumlah gula darah yang ideal di bawah 200 atau 180, atau rentang antara 110-180.