IHSG Turun 1,37% Tertekan Tarif AS dan Ketegangan Geopolitik
Sumber Foto: RRI.co.id
Internasional

IHSG Turun 1,37% Tertekan Tarif AS dan Ketegangan Geopolitik

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai tekanan yang dialami pasar keuangan domestik masih dipicu oleh sentimen global, meski mayoritas bursa saham di Asia menunjukkan penguatan.

Pada perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,37 persen ke level 8.280,833. Penurunan tersebut terjadi di tengah tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, di antaranya BUMI, BBCA, AMMN, BBRI, hingga GOTO.

“Pelemahan IHSG hari ini lebih banyak dipicu oleh tekanan pada saham-saham kapitalisasi besar, meskipun mayoritas bursa Asia justru bergerak menguat,” ujar Gunawan dalam keterangannya Selasa, 24 Februari 2026.

Tekanan terhadap IHSG juga diperberat oleh pelemahan nilai tukar Rupiah. Pada penutupan perdagangan, Rupiah tercatat melemah ke level Rp16.815 per dolar AS.

Menurut Gunawan, pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tarif impor global sebesar 15 persen. Kebijakan tersebut menuai respons negatif dari sejumlah negara, termasuk Uni Eropa, yang menyatakan keberatan atas langkah tersebut.

“Kenaikan tarif impor global AS kembali menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan dan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan aset berisiko,”kata Gunawan.

Selain isu tarif, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik yang kian memanas antara Iran dan Amerika Serikat. Gunawan menilai, meningkatnya tensi kedua negara membuka risiko konflik terbuka yang dapat berdampak luas terhadap pasar global.

“Hubungan Iran dan AS semakin meruncing dan mengarah pada risiko konflik. Situasi geopolitik seperti ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap lebih hati-hati,” katanya.

Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat, khususnya indeks kepercayaan konsumen. Gunawan menyebut, indeks tersebut diproyeksikan membaik pada Februari, meski belum cukup kuat untuk meredam sentimen global secara keseluruhan.

Di sisi lain, harga emas dunia terpantau bergerak relatif stabil di kisaran 5.173 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,81 juta per gram. Menurut Gunawan, peluang emas untuk kembali menguat masih terbuka.

“Jika tensi geopolitik terus memburuk, terutama terkait potensi konflik AS dan Iran, harga emas berpeluang menembus level 5.300 dolar AS per ons troy,” ucapnya.