IHSG Menguat di Tengah Lonjakan Harga Emas dan Tensi Geopolitik
Sumber Foto: waspada.id
Internasional

IHSG Menguat di Tengah Lonjakan Harga Emas dan Tensi Geopolitik

Lihat Foto

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

MEDAN (Waspada.id): Polemik kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya tensi geopolitik global mendorong lonjakan harga emas dunia, sementara pasar saham domestik justru mengawali perdagangan dengan penguatan.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa indeks dolar AS (USD Index) melemah setelah sempat menyentuh level 97,8 pada akhir pekan lalu dan kini bergerak di kisaran 97,4.

“Penurunan USD Index terjadi setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan kenaikan tarif yang sebelumnya diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump. Putusan tersebut menjadi sentimen positif bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah,” ujar Gunawan, Senin (23/2).

🔗 Baca Juga

Rupiah Dan IHSG Tertekan, Emas Ikut Melemah Di Tengah Memanasnya Konflik Global

Pada perdagangan pagi ini, rupiah ditransaksikan menguat ke kisaran Rp16.840 per dolar AS. Menurut Gunawan, penguatan rupiah dipicu meredanya tekanan dolar, meski pelaku pasar masih mencermati sejumlah agenda ekonomi global dalam sepekan ke depan.

Beberapa agenda yang dinanti antara lain penetapan suku bunga pinjaman oleh People’s Bank of China (PBoC), rilis data indeks kepercayaan konsumen AS, pidato Presiden AS, serta data klaim pengangguran mingguan AS. “Namun secara umum, tidak ada agenda besar yang diperkirakan mampu mengubah arah pasar secara signifikan dalam waktu dekat,” jelasnya.

🔗 Baca Juga

Emas Tembus $4.700, Rupiah Dan IHSG Kompak Menguat

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 8.334, sejalan dengan pergerakan bursa Asia yang cenderung mixed namun mengarah positif.

Berbeda dengan pasar saham, harga emas dunia justru melonjak tajam ke level 5.160 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,8 juta per gram. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian kebijakan tarif AS serta memanasnya tensi geopolitik global.

Gunawan menilai, meskipun Mahkamah Agung AS telah membatalkan kebijakan tarif resiprokal, Presiden Trump justru merespons dengan wacana kenaikan tarif global baru sebesar 10% hingga 15%. “Kondisi ini menciptakan ketidakpastian baru di pasar dan mendorong investor mencari aset safe haven seperti emas,” katanya.

Selain faktor kebijakan perdagangan, memanasnya situasi di Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran turut memperkuat reli emas.

🔗 Baca Juga

Harga Emas Melambung, Rupiah Berpotensi Tembus Rp17.000 Per Dolar AS

“Selama tensi geopolitik dan kebijakan tarif masih belum stabil, harga emas berpotensi tetap bertahan di level tinggi. Sementara pasar saham domestik masih akan bergerak mengikuti sentimen global dan stabilitas rupiah,” tutup Gunawan. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

PGN Masuk Jajaran 500 Perusahaan Asia – Pasifik Terbaik Versi Majalah TIME

BERITA TERKAIT

Aceh

Dapur Emping Melinjo Tetap Riuh, Namun Keuntungan Tak Kunjung Tumbuh

Ekonomi

Tunggu Listrik Menyala, Pedagang Pasar Baru Panyabungan Siap Pindah Mei

Ekonomi

Mentan Siapkan 5 Strategi Hadapi Ancaman El Nino, Fokus April–Juni 2026

Ekonomi

Trump Terapkan Tarif Hingga 100% Untuk Obat Impor, Dorong Produksi Dalam Negeri