Harga Minyak Turun Signifikan 4% Akibat Meredanya Risiko Geopolitik
Selain itu, penguatan dolar AS dan perkiraan cuaca yang lebih hangat di AS juga memberikan tekanan ke bawah pada harga energi.
Dengan demikian, harga minyak mentah Brent berjangka turun $3,02 (4,4%) menjadi $66,30 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun $3,07 (4,7%) dan ditutup pada $62,14 per barel.
Penyebab utama pembalikan pasar adalah berita bahwa AS dan Iran akan melanjutkan negosiasi nuklir. Presiden Donald Trump mengatakan Iran "serius bernegosiasi," hanya beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi negara Timur Tengah itu mengkonfirmasi bahwa pembicaraan sedang berlangsung.
Para analis di perusahaan pialang investasi Phillip Nova meyakini bahwa ancaman intervensi militer AS (yang telah menjadi faktor pendukung harga minyak sepanjang Januari 2026) kini telah mereda, sehingga menghilangkan premi risiko geopolitik dari harga komoditas tersebut.
Selain itu, harga minyak juga berada di bawah tekanan dari pasar mata uang. Dolar AS menguat setelah Presiden Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya. Dolar yang lebih kuat membuat harga minyak lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Terkait faktor cuaca, firma konsultan Ritterbusch and Associates mencatat bahwa prakiraan suhu yang lebih hangat di AS telah menyebabkan harga kontrak berjangka diesel turun lebih dari 6%.
Para ahli di perusahaan pialang PVM menilai bahwa seiring meredanya faktor geopolitik dan peristiwa cuaca ekstrem, perhatian pasar kembali beralih ke kekhawatiran tentang meningkatnya persediaan minyak global tahun ini. Sebelumnya, pada pertemuan tanggal 1 Februari, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC utama (kelompok OPEC+) sepakat untuk mempertahankan tingkat produksi hingga Maret 2026 karena penurunan permintaan musiman.




