Titan, Bulan Terbesar Saturnus, Punya Cuaca dan Bentang Alam yang Disebut Mirip Bumi
Sumber Foto: Kilat
Fakta Kilat

Titan, Bulan Terbesar Saturnus, Punya Cuaca dan Bentang Alam yang Disebut Mirip Bumi

Para ilmuwan selama ini antusias membahas kemungkinan kolonisasi manusia di Mars, meski ada perdebatan terkait kelayakannya, termasuk fakta bahwa Mars adalah planet yang tidak bisa dihirup udaranya. Di tengah diskusi itu, perhatian juga mengarah ke objek lain di tata surya yang dinilai memiliki kemiripan dengan Bumi, yaitu Titan, bulan terbesar Saturnus.

Sejumlah penyelidikan sebelumnya menyimpulkan Titan merupakan satu-satunya bulan di tata surya yang memiliki atmosfer padat. Kondisi ini membuat Titan memiliki fenomena cuaca yang disebut menyerupai Bumi.

Hujan metana dan sungai di Titan

Di Titan, curah hujan metana dapat berubah menjadi aliran sungai yang kemudian membentuk danau. Para ahli menyebut hujan tersebut pada dasarnya berupa metana cair yang jatuh melalui angin nitrogen.

Model baru: lanskap dan gumuk pasir hidrokarbon

Temuan terbaru dari model yang dikembangkan ilmuwan planet menunjukkan adanya kesamaan lain, yakni pada pembentukan lanskap. Hasil ini dilaporkan dalam Geophysical Research Letters.

Tim ilmuwan planet dari Universitas Stanford di California menjelaskan material di Titan dapat menghasilkan bukit pasir (gumuk pasir) berbahan hidrokarbon. Menurut mereka, gumuk pasir tersebut berbeda dari struktur sedimen silikat.

Tim juga menilai menarik bahwa pembentukan gumuk pasir dapat diamati dekat dengan sungai, danau, dan lautan yang terisi metana cair.

Siklus musiman yang menggerakkan sedimen

Melalui serangkaian model komputer, para peneliti menyimpulkan atmosfer Titan memiliki siklus musiman yang mirip Bumi. Fenomena ini mendorong pergerakan butir di permukaan Titan, yang kemudian memicu terbentuknya bukit pasir dan dataran setelah gumpalan hidrokarbon berkumpul.

Studi tersebut juga mencatat bahwa sedimen di bulan Saturnus itu diperkirakan sebagian besar terdiri dari butiran organik yang lemah secara mekanis dan rentan mengalami abrasi cepat hingga menjadi debu.

Prospek riset dan kolonisasi

Para ilmuwan memandang Titan sebagai salah satu kandidat utama untuk kolonisasi manusia di masa depan karena fenomena yang dinilai mirip Bumi. Penulis utama studi, Mathieu Lapotre, mengatakan model yang mereka kembangkan memberi kerangka kerja pemersatu untuk memahami bagaimana berbagai lingkungan sedimen di Titan bekerja bersama.

Lapotre, asisten profesor ilmu geologi di Stanford’s School of Earth, Energy & Environmental Sciences, menambahkan bahwa pemahaman tentang keterkaitan berbagai proses sedimen dapat membantu peneliti menggunakan bentang alam yang ditinggalkan proses tersebut untuk membaca iklim atau sejarah geologis Titan, serta kaitannya dengan prospek kehidupan di Titan.