Tantangan Digitalisasi Pendidikan di Wilayah Terpencil
Edu Pilihan
Masa Depan Pendidikan dalam Genggaman Sinyal
21 Februari 2026 18:00 Diperbarui: 21 Februari 2026 16:11 135 26 3
+
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Apa gunanya media pembelajaran interaktif yang saya susun hingga larut malam jika mahasiswa di pelosok Nusantara harus naik ke puncak bukit hanya untuk mengunduh satu materi kuliah? Pertanyaan retoris ini sering kali menghantui benak saya di sela waktu antara sahur dan kuliah pagi.
Di saat dunia masih terlelap, saya justru sering kali berjibaku dengan tumpukan tugas digital. Mulai dari mengunggah video pembelajaran yang ukurannya cukup untuk menguras kuota, sembari menaruh harap yang besar pada layar laptop. Harapan bahwa setiap klik Upload pada Learning Management System (LMS) bisa mendarat di perangkat mahasiswa saya tepat waktu, tanpa terhalang oleh sekat geografis.
Namun, sebagai seorang dosen, saya menyadari bahwa dalam dunia pendidikan, harapan saja tidak pernah cukup. Digitalisasi pada sektor pendidikan memang menjanjikan sebuah inklusi yang luar biasa. Sebuah dunia di mana pengetahuan tidak lagi menjadi hak istimewa mereka yang tinggal di pusat kota. Namun, kenyataan pahitnya adalah tanpa infrastruktur komunikasi yang prima dan merata, digitalisasi justru berisiko membangun tembok isolasi baru. Sebuah tembok tak kasat mata yang memisahkan mereka yang memiliki akses dengan mereka yang terpinggirkan oleh kendala teknis.
Ilustrasi kuliah online. (Sumber: DOK. TANOTO FOUNDATION via kompas.com)
Bagi seorang pendidik, Ramadan bukan sekadar periode perpindahan waktu makan atau pergeseran jam mengajar menjadi lebih awal demi menghormati ibadah. Di tahun 2026 ini, Ramadan telah bertransformasi menjadi sebuah perjalanan digital yang melintasi batas-batas fisik ruang kelas.
Jika dahulu pengabdian saya diukur dari langkah kaki menuju podium di depan kelas yang bising oleh gesekan kursi, kini pengabdian itu sering kali bermuara pada sebuah lensa kamera kecil di atas layar monitor. Di hadapan layar itulah, saya menatap puluhan jendela kecil yang menampilkan wajah-wajah mahasiswa saya. Mereka adalah para pencari ilmu yang sedang berjuang melawan kantuk dan dahaga di sepertiga akhir puasa mereka, namun tetap memiliki binar di mata untuk memahami materi yang saya sampaikan. Di titik inilah saya benar-benar menyadari bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar alat bantu atau tren sesaat.
Di balik kemudahan e-learning yang kita banggakan hari ini, terselip pesan mendalam tentang hakikat pentingnya sebuah koneksi. Sebagai pendidik yang kini dituntut piawai memproduksi media pembelajaran berbasis audio-visual dan mengkurasi materi digital yang berat, saya memahami bahwa tanpa infrastruktur komunikasi yang prima, seluruh inovasi pedagogi ini hanyalah sebuah rencana indah yang macet di tengah jalan. Pendidikan di era digital adalah sebuah janji tentang keadilan bahwa ilmu pengetahuan harus bisa diakses oleh siapa saja. Tak peduli apakah mereka duduk di perpustakaan kota yang megah dengan koneksi wifi yang stabil, atau sedang berteduh di teras rumah di pelosok desa yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian.
Ilustrasi e-learning. (Sumber: YakobchukOlena via kompas.com)
Urgensi perluasan digitalisasi saat ini terasa begitu mendesak, terutama ketika saya melihat fenomena mahasiswa yang mulai mudik lebih awal ke daerah asal mereka. Muncul rasa haru sekaligus kecemasan yang berkecamuk saat sesi kuliah daring berlangsung. Saya sering menyaksikan bagaimana seorang mahasiswa berusaha tetap hadir di ruang virtual saya, meski wajahnya kadang membeku di layar karena sinyal yang timbul tenggelam. Di saat itulah saya tersadar bahwa digitalisasi pendidikan membawa sebuah paradoks yang nyata. Digitalisasi mampu mendekatkan yang jauh secara visual, namun sekaligus menguji daya tahan mereka yang berada di wilayah terpencil secara teknis.
Jika akses digital tidak segera diperluas ke seluruh pelosok Nusantara, kita sebenarnya sedang memelihara sebuah jurang ketimpangan. Dampaknya jauh lebih dalam daripada sekadar nilai akademis di atas kertas. Ini adalah soal peluang masa depan. Seorang mahasiswa di pelosok yang terputus dari LMS adalah seorang pemuda yang kehilangan kesempatan untuk mengakses peluang. Tanpa jaringan yang merata, pertumbuhan intelektual dan ekonomi hanya akan terkonsentrasi di satu titik, sementara daerah pinggiran hanya akan menjadi penonton dari laju perkembangan zaman yang berlari kencang.
HALAMAN :
1
2
3
Mohon tunggu...
Lihat Edu Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
KIRIM
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
TAG
diari ramadan 2026
primacom
blogcompetition
ramadan bercerita 2026
ramadan bercerita 2026 hari 4
event
humaniora
bahasa
edu
sustainability




