Mengembalikan Jiwa Pendidikan: Dari Rutinitas Menjadi Relasi
Sumber Foto: TIMES Indonesia
Sosial

Mengembalikan Jiwa Pendidikan: Dari Rutinitas Menjadi Relasi

BADUNG – Sekolah tetap berjalan. Kelas tetap dibuka. Guru tetap mengajar. Siswa tetap belajar. Namun ada sesuatu yang terasa berubah. Bukan pada bentuknya, melainkan pada ruhnya.

Belajar yang dahulu terasa seperti proses menemukan sesuatu, kini lebih sering hadir sebagai kewajiban. Ia menjadi beban yang harus dituntaskan, bukan pengalaman yang menumbuhkan. Pendidikan bergerak seperti rutinitas administratif: berlangsung, tetapi kehilangan getaran.

Di banyak ruang kelas, anak-anak datang dengan mata lelah. Bukan semata karena kurang tidur, melainkan karena mereka membawa tekanan. Tekanan untuk memperoleh nilai tinggi, tekanan untuk tidak tertinggal, tekanan untuk memenuhi harapan keluarga, sekolah, dan lingkungan. Mereka belajar bukan karena ingin tahu, tetapi karena takut gagal. Rasa takut itu akhirnya lebih besar daripada rasa ingin memahami.

Guru pun berada dalam situasi serupa. Banyak pendidik hadir dengan tubuh letih dan pikiran penuh. Mereka tetap berdiri di depan kelas, tetap menjelaskan, tetap memberi tugas, namun sering kali mereka sendiri sedang kehabisan tenaga.

Mereka tidak kekurangan niat, melainkan kekurangan ruang untuk benar-benar mendidik. Administrasi menumpuk, laporan menunggu, target mengejar, sementara waktu untuk membangun relasi dengan peserta didik semakin menyempit.

Tidak ada yang salah dengan anak-anak. Tidak ada yang sepenuhnya salah dengan guru. Yang patut dipertanyakan justru sistem yang membuat lelah menjadi sesuatu yang normal, bahkan dianggap sebagai konsekuensi wajar dari pendidikan.

Pelan-pelan, belajar tidak lagi tentang rasa ingin tahu. Pelan-pelan, mengajar tidak lagi tentang menemani tumbuh. Pelan-pelan, sekolah tidak lagi tentang kehidupan.

Paulo Freire pernah mengkritik pendidikan yang memperlakukan siswa seperti wadah kosong yang tinggal dituangi. Ia menyebutnya sebagai model “bank”, ketika pengetahuan dianggap sekadar setoran informasi.

Dalam model ini, peserta didik diminta menerima, menghafal, lalu mengulang, tanpa ruang dialog, tanpa keberanian bertanya, tanpa kesempatan menguji gagasan.

Pendidikan semacam itu mungkin menghasilkan kepatuhan, tetapi jarang melahirkan kesadaran. Di titik itulah muncul pertanyaan yang mengganggu: jangan-jangan pendidikan masih berjalan, tetapi jiwanya perlahan pergi.

Kegiatan di sekolah sebenarnya sangat banyak. Jadwal padat. Tugas bertumpuk. Evaluasi berlapis. Tetapi tidak semua aktivitas itu menyentuh kebutuhan terdalam manusia yang sedang tumbuh. Sekolah terlalu sibuk mengejar angka: nilai rapor, ranking, sertifikat, ijazah, indeks prestasi, akreditasi. Angka memang penting, tetapi manusia jauh lebih penting.

Ketika pendidikan terlalu mengagungkan angka, anak-anak mulai mengukur dirinya dari nilai. Jika nilainya tinggi, mereka merasa pantas. Jika nilainya rendah, mereka merasa gagal. Padahal manusia tidak pernah bisa diringkas menjadi satu baris angka. Manusia adalah proses, bukan sekadar hasil.

Dalam kajian pedagogik, belajar dipahami sebagai proses aktif membangun makna, bukan sekadar menerima informasi. Peserta didik seharusnya diberi ruang untuk bertanya, berdialog, mencoba, salah, lalu memperbaiki.

Ketika ruang-ruang itu menyempit, belajar berubah menjadi aktivitas mekanis yang miskin makna. Pendidikan akhirnya menjadi latihan menghafal, bukan latihan memahami.

Carl Rogers menegaskan bahwa belajar paling bermakna terjadi ketika seseorang merasa diterima, dihargai, dan aman menjadi dirinya sendiri. Sebelum bicara tentang materi, pendidikan seharusnya bicara tentang rasa: rasa aman, rasa dihargai, rasa didengarkan. Tanpa itu semua, pelajaran hanya akan melintas di permukaan, lalu hilang tanpa bekas.

Pendidikan bukan hanya urusan pengetahuan, tetapi juga urusan relasi manusia. Namun sering kali, hubungan guru dan murid tersisih oleh tuntutan teknis.

Guru sebenarnya ingin mendengar cerita siswanya, memahami problem mereka, mendampingi tumbuhnya kepercayaan diri mereka. Tetapi ruang itu semakin sempit karena pendidikan sering dipaksa bergerak seperti pabrik: mengejar target, mengejar output, mengejar laporan.

Di saat yang sama, dunia anak-anak berubah sangat cepat. Mereka hidup di tengah layar, video pendek, dan media sosial. Mereka terbiasa dengan dunia yang bergerak cepat dan instan.

Sekolah, sebaliknya, sering terasa lambat, kaku, dan terlalu formal. Maka ketika anak-anak tampak tidak fokus, mereka segera dituduh malas atau tidak disiplin. Padahal mungkin mereka hanya tidak menemukan alasan untuk peduli.

Teknologi sering dipromosikan sebagai solusi pendidikan. Namun teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Ia tidak bisa menggantikan hubungan manusia.

Dalam perspektif pedagogi kritis, teknologi baru bermakna jika digunakan untuk memperkuat dialog, kolaborasi, dan refleksi. Tanpa itu, teknologi hanya menjadi medium baru bagi pola lama: tetap satu arah, tetap menekan, tetap mengejar angka, hanya saja dengan kemasan digital.

Yang membuat pendidikan hidup bukan layar, bukan aplikasi, bukan pula platform. Yang membuat pendidikan hidup adalah pertemuan. Pertemuan antara guru dan murid. Pertemuan antara manusia dan manusia.

Ketika pendidikan kehilangan jiwa, yang lahir adalah generasi yang terbiasa mengikuti, tetapi jarang diajak memahami. Terbiasa patuh, tetapi takut bertanya. Terbiasa diam, tetapi tidak terbiasa berpikir.

Pendidikan semacam ini mungkin mencetak lulusan, tetapi tidak selalu mencetak manusia yang utuh. Dan ini bukan kesalahan anak-anak. Ini adalah tanggung jawab bersama.

Menghidupkan kembali jiwa pendidikan tidak harus menunggu kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari hal kecil. Dari guru yang menyapa dengan tulus. Dari ruang kelas yang aman untuk bertanya. Dari sekolah yang lebih menghargai proses daripada sekadar hasil. Dari kebijakan yang tidak hanya menuntut capaian, tetapi juga merawat manusia.

Menghidupkan jiwa pendidikan berarti menggeser orientasi: dari pendidikan yang berpusat pada sistem menuju pendidikan yang berpusat pada manusia. Kurikulum, evaluasi, dan kebijakan seharusnya menjadi sarana untuk memfasilitasi pertumbuhan peserta didik, bukan sekadar alat kontrol.

Pendidikan harus dipahami sebagai proses jangka panjang membentuk karakter, kesadaran, dan daya hidup, bukan proyek jangka pendek menghasilkan output.

Pendidikan yang berjiwa mungkin tidak selalu tampak hebat. Tidak selalu rapi. Tidak selalu sempurna. Tetapi ia terasa hangat. Dan kehangatan itu penting, karena manusia tumbuh bukan hanya dari tekanan, melainkan dari rasa diterima.

Pendidikan bukan tentang seberapa banyak materi yang selesai. Bukan tentang seberapa tinggi peringkat sekolah. Bukan tentang seberapa canggih sistemnya. Pendidikan adalah tentang membantu manusia menjadi manusia.

Menumbuhkan keberanian berpikir. Merawat kepekaan rasa. Membentuk kesadaran akan diri dan sesama. Jika pendidikan kehilangan itu, maka apa pun namanya, ia telah kehilangan jiwanya.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.