Menemukan Kembali Kemanusiaan dalam Pendidikan Pasca Tragedi Siswa di NTT
Kasus siswa bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengguncang nurani kita bersama. Bukan hanya karena kehilangan satu nyawa anak sekecil itu. Akan tetapi, karena di balik kisah "molo mama" ini membuka realitas pahit yang kerap kita abaikan.
Dari berbagai cerita yang beredar, muncul satu fakta yang menyesakkan soal buku tulis dan pena. Dua benda sederhana yang selama ini kita anggap remeh bahkan sering luput dari perhatian.
Bagi sebagian besar orang, membeli buku tulis dan pena mungkin bukan perkara. Harganya murah, mudah didapat, dan terasa sepele.
Namun bagi anak dari keluarga tidak mampu, buku tulis dan pena bisa menjadi kemewahan. Sesuatu yang diinginkan tetapi kerap sulit didapatkan.
Kita sering lupa bahwa kemiskinan tidak selalu terlihat dari pakaian lusuh atau sepatu robek. Kadang ia hadir dalam diam. Dalam wajah anak yang memilih menunduk.
Siswa itu mungkin hanya berharap bisa menulis seperti teman-temannya. Atau sekadar tidak merasa berbeda di dalam kelas.
Bisa jadi ia punya harapan lain layaknya mimpi kecil khas anak seusianya. Tetapi ketika kebutuhan paling dasar saja tak terpenuhi maka mimpi terasa terlalu jauh.
Tekanan ekonomi yang dialami keluarga seringkali ikut menekan mental anak. Sayangnya, tekanan itu jarang terucap, apalagi ditangani.
Kita juga harus jujur mengakui bahwa ketangguhan mental anak-anak hari ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Tantangan zaman berubah, begitu pula daya tahan mereka.
Dunia digital, perbandingan sosial, dan tuntutan akademik membuat beban anak semakin berat. Ketika ditambah masalah ekonomi orangtua maka tekanan bisa berlipat ganda.
Mohon tunggu...




