Mahasiswa Teknokrat Indonesia Raih Medali Perunggu di Kejuaraan Tinju Nasional
Sumber Foto: rmollampung.id
Sosial

Mahasiswa Teknokrat Indonesia Raih Medali Perunggu di Kejuaraan Tinju Nasional

Fakta News Day - Abin Terli, mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga Universitas Teknokrat Indonesia, Kampus Terbaik di Lampung, mendapatkan medali perunggu pada Kejuaraan Nasional Boxing Championship yang diselenggarakan Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandar Lampung dan ajang Fighter of PON Beladiri Lampung yang diselenggarakan pada 13-15 Februari 2026.

Kepada wartalampung.id, Abin mengatakan, ia mengucapkan terima kasih atas dukungan dan doa yang diberikan oleh Universitas Teknokrat Indonesia selama ini.

Abin mengatakan, selama ini ai mendapatkan beasiswa yayasan. Ia berbahagia dan bersyukur.

”Perjalanan ini tidaklah mudah, harus menyetarakan waktu antara kuliah yang menuntut dan latihan yang intensif. Namun, dukungan dari universitas dan yayasan menjadi energi utama saya untuk terus berjuang,” kata dia.

Abin melanjutkan, melalui olahraga tinju, ia tidak hanya mengasah kemampuan fisik dan teknik bertanding, tetapi juga membangun karakter seperti kedisiplinan, ketekunan, dan sportivitas yang bermanfaat untuk perkuliahan dan kehidupan.

”Saya juga berkomitmen untuk menjadi atlet yang baik bagi universitas, membawa nama baik Teknokrat dalam berbagai ajang kompetisi tingkat lokal, nasional, bahkan internasional jika ada kesempatan.”

Untuk teman mahasiswa lainnya, ia ingin menyampaikan bahwa kita bisa mengejar prestasi di bidang apa pun selama ada tekad dan dukungan yang tepat.

”Jangan ragu untuk mengembangkan bakat kalian, universitas selalu siap mendukung potensi yang ada pada setiap mahasiswanya.”

Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr HM Nasrulllah Yusuf SE MBA menyampaikan olahraga beladiri (seperti pencak silat, taekwondo, karate, judo, dll.) memiliki peran signifikan dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang ditetapkan PBB.

Berbagai studi, kata Nasrullah, termasuk dari UNESCO, menyoroti beladiri sebagai alat efektif untuk pengembangan pemuda dan pemberdayaan masyarakat.

Berikut adalah SDGs yang didukung langsung oleh olahraga beladiri:

- Peran: Beladiri meningkatkan kesehatan fisik (kekuatan, fleksibilitas) dan mental (disiplin, ketenangan) serta memerangi gaya hidup sedenter (kurang gerak) dan penyakit tidak menular.

- Konteks: Program bela diri di komunitas membantu mengurangi kecemasan dan depresi, serta meningkatkan rasa percaya diri.

- Peran: Beladiri, khususnya dalam konteks pendidikan jasmani, mengajarkan nilai-nilai kehidupan (life skills) seperti disiplin diri, respek (hormat), sportivitas, dan tanggung jawab.

- Konteks: UNESCO menggunakan beladiri sebagai metode pendidikan untuk mengajarkan budaya non-kekerasan dan menghormati keberagaman.

- Peran: Program beladiri yang dikelola dengan baik memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki, memberdayakan perempuan melalui keterampilan pertahanan diri, dan menantang stereotip gender.

- Peran: Beladiri seringkali inklusif dan dapat diakses oleh populasi yang kurang beruntung, penyandang disabilitas, atau pengungsi (misalnya, Yayasan Kemanusiaan Taekwondo).

- Peran: Beladiri mengajarkan pengendalian diri, resolusi konflik tanpa kekerasan, dan saling menghormati.

- Konteks: Dalam konteks lokal Indonesia, pencak silat melestarikan budaya asli, memperkuat identitas, dan mendidik karakter, yang mendukung stabilitas sosial.

- Peran: Organisasi beladiri bekerja sama dengan lembaga internasional (seperti UNESCO ICM) dan komunitas lokal untuk mempromosikan nilai-nilai SDG melalui inisiatif “Sport for Development”.

The International Platform on Sport and Development +7

Secara keseluruhan, beladiri bukan hanya tentang pertarungan, tetapi sebagai media edukasi dan pembangunan manusia yang berkelanjutan.

Rektor berharap, prestasi atlet di masa mendatang lebih baik daripada yang dicapai sekarang.