Integrasi Pendidikan Karakter dalam Bulan Ramadan di HST
POJOKBANUA, BARABAI – Ramadan tahun ini terasa berbeda di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Sekolah-sekolah tidak hanya menyesuaikan jam belajar, tetapi menjadikan bulan suci sebagai ruang praktik pembentukan karakter.
Dinas Pendidikan Kabupaten HST dengan sejumlah program digulirkan dan diintegrasikan dengan pembelajaran. Mulai dari jurnal ibadah, rapor karakter, penguatan kurikulum adab, pesantren Ramadan, hingga kegiatan sosial.
Kasi Manajemen GTK dan Kelembagaan SD Dinas Pendidikan HST, Miseransyah, menegaskan bahwa langkah ini memang dirancang agar Ramadan tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan.
“Program ini bukan sekadar kegiatan tambahan. Kami ingin nilai-nilai spiritual benar-benar terintegrasi dalam pembelajaran. Ramadan harus menjadi momentum penguatan karakter,” ujarnya Sabtu (21/2/2026).
Salah satu program yang diterapkan adalah Buku Jurnal Harian Ramadan. Melalui jurnal tersebut, siswa mencatat pelaksanaan salat fardu, tarawih, dhuha, serta ibadah lainnya. Catatan itu diverifikasi dengan tanda tangan orang tua atau imam masjid sebagai bentuk pengawasan bersama.
“Kami melibatkan orang tua dan lingkungan tempat tinggal. Pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan ke sekolah,” kata Miseransyah.
Selain jurnal ibadah, sekolah juga menerapkan Rapor Karakter. Instrumen ini menilai sikap, kejujuran, serta kedisiplinan siswa selama menjalankan ibadah puasa. Penilaian tersebut menjadi bagian dari evaluasi perilaku peserta didik secara menyeluruh.
“Kami ingin ada keseimbangan antara capaian akademik dan pembentukan sikap. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menguatkan keduanya,” jelasnya.
Implementasi kurikulum adab turut diperkuat. Pembelajaran tidak hanya menekankan materi, tetapi juga praktik etika sehari-hari, seperti adab berbicara, menghormati orang tua dan guru, serta tata krama dalam pergaulan sosial.
Seluruh satuan pendidikan juga menyelenggarakan Pesantren Ramadan. Materinya meliputi akidah, fikih, Al-Qur’an hadis, sejarah Islam, hingga wawasan umum yang dikaitkan dengan kehidupan modern.
Untuk menumbuhkan empati sosial, sekolah memfasilitasi kegiatan berbagi takjil dan sembako kepada warga sekitar. Sementara itu, Komunitas Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-HST menjalankan program One Day One Juz sebagai gerakan tadarus bersama.
“Penguatan spiritual tidak hanya untuk siswa, tetapi juga untuk guru. Kami ingin suasana Ramadan ini dirasakan bersama,” tambah Miseransyah.
Melalui integrasi jurnal ibadah, pesantren Ramadan, dan aksi sosial, pemerintah daerah berharap peserta didik di Bumi Murakata tidak hanya tumbuh cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan adab yang kuat.(AS/KW)




