Dampak Perjanjian Perdagangan RI-AS: Sektor Menang dan Rugi
Sumber Foto: Kompas.com
Ekonomi

Dampak Perjanjian Perdagangan RI-AS: Sektor Menang dan Rugi

Fakta News Day - JAKARTA, KOMPAS.com — Kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) menandai babak baru relasi dagang kedua negara.

Di satu sisi, kesepakatan ini disebut membuka peluang peningkatan akses pasar. Namun di sisi lain, terdapat implikasi sektoral yang tidak merata bagi industri dalam negeri.

Laporan Trade and Industry Brief Februari 2026 yang diterbitkan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) memetakan secara rinci sektor-sektor yang berpotensi diuntungkan maupun tertekan dari implementasi ART, terutama dalam konteks penyesuaian tarif dan harmonisasi regulasi.

Lihat Foto

Tarif tidak berimbang dan peluang sektoral

Kesepakatan ART yang ditandatangani pada 19 Februari 2026 dinilai sebagai langkah stabilisasi hubungan ekonomi bilateral pasca eskalasi kebijakan proteksionis AS sejak periode pertama Presiden Donald Trump.

“Kesepakatan ART awalnya diharapkan dapat memuat komitmen penurunan tarif timbal balik yang berimbang. Namun, jika ditinjau secara detail, peluang bagi Indonesia tidak seimbang dengan peluang bagi AS," tulis LPEM FEB UI dalam laporannya.

"Indonesia perlu mengakses tarif hingga nol persen untuk 99 persen produk asal AS yang berpotensi mengganggu perdagangan domestik," imbuh lembaga tersebut

Sebagai imbalannya, AS menurunkan bea masuk tambahan atas Most Favoured Nation

(MFN) untuk sejumlah produk Indonesia hingga nol persen, meliputi minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, dan tekstil.

Lihat Foto

Namun demikian, laporan tersebut menekankan bahwa penurunan tarif nol persen untuk tekstil bersifat conditional, mensyaratkan pemenuhan komponen local content alias tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan sertifikasi tambahan, serta mempertahankan tarif rata-rata 1,81persen untuk tekstil tidak hanya diberikan pada Indonesia, tetapi juga negara mitra lainnya.

Struktur tarif AS terhadap produk Indonesia menunjukkan variasi yang cukup lebar.

Rata-rata bea masuk tertinggi dikenakan pada produk tekstil dan pakaian jadi (sekitar 9,1 persen), diikuti alas kaki (sekitar 7,5 persen), sementara produk seperti mesin dan peralatan listrik relatif lebih rendah.

Data ini menjadi dasar analisis sektoral mengenai siapa yang berpotensi memperoleh keuntungan lebih besar dari perubahan skema tarif tersebut.

Tekstil, alas kaki, dan furnitur: sektor berpeluang terdongkrak

LPEM FEB UI mencatat bahwa penurunan tarif akan memberikan dampak sektoral yang berbeda.

“Penurunan tarif akan memberikan dampak sektoral yang berbeda. Sektor yang berpotensi paling diuntungkan adalah tekstil dan pakaian, produk makanan, dan alas kaki, karena ketiganya memiliki tarif awal tertinggi," ungkap LPEM FEB UI.

Tingginya tarif awal menjadi faktor utama mengapa sektor-sektor tersebut dinilai memperoleh keuntungan relatif lebih besar ketika terjadi penurunan tarif.

Dalam logika perdagangan internasional, semakin tinggi tarif awal, semakin besar ruang penurunan biaya masuk yang dapat meningkatkan daya saing harga di pasar tujuan.