Neraca Perdagangan Indonesia Catat Surplus 69 Bulan Berturut-turut
Fakta News Day - BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$0,95 miliar pada Januari 2026, memperpanjang tren surplus menjadi 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Jadi, Intinya Apa Sih?
Neraca perdagangan Indonesia surplus 69 bulan berturut sejak Mei 2020.
Surplus ditopang sektor non-migas, defisit terjadi di sektor migas.
Amerika, India, Filipina berkontribusi surplus; Tiongkok, Australia, Perancis defisit.
Ringkasan ini dihasilkan oleh AI dan telah diverifikasi oleh redaksi
Ukuran Font: 16px
periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$0,95 miliar. Dengan capaian tersebut, Indonesia telah membukukan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
"Neraca perdagangan Indonesia yang telah mencatat surplus tersebut ini selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak yaitu Mei di 2020," ucap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, dalam konferensi pers BPS, Senin (2/3).
Surplus Januari 2026 terutama ditopang oleh kinerja positif sektor non-migas yang mencatat surplus sebesar US$3,22 miliar. Komoditas penyumbang utama surplus non-migas antara lain lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Selain itu, neraca komoditas migas tercatat defisit sebanyak US$2,27 miliar. Defisit tersebut terutama disumbang oleh komoditas minyak mentah, hasil minyak, dan gas.
BACA JUGA
BPS Sasar Pelaku Ekonomi Digital dalam Sensus Ekonomi 2026
21 Jun 2026
berdasarkan negara mitra dagang, untuk neraca perdagangan total (migas dan non-migas), tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$1,55 miliar, India sebesar US$1,07 miliar, dan Filipina sebesar US$0,69 miliar.
Sementara itu, defisit terdalam tercatat dengan Tiongkok sebesar US$2,47 miliar, disusul Australia sebesar US$0,96 miliar dan Perancis sebesar US$0,47 miliar.
"Australia defisit sebesar US$0,96 miliar dan juga Perancis defisit sebesar US$0,47 miliar," tuturnya.
BACA JUGA
BPS: Data Sensus Ekonomi 2026 Dijamin Rahasia, Bukan untuk Pajak
18 Jun 2026
Untuk neraca perdagangan non-migas saja, tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$1,81 miliar, India sebesar US$1,10 miliar, serta Filipina sebesar US$0,69 miliar.
Adapun defisit terdalam pada kelompok non-migas terjadi dengan Tiongkok sebesar US$2,62 miliar, Australia sebesar US$0,84 miliar, dan Perancis sebesar US$0,47 miliar.
Dari sisi komoditas non-migas, surplus terbesar pada Januari 2026 didorong oleh lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$3,10 miliar, bahan bakar mineral sebesar US$2,16 miliar, serta besi dan baja sebesar US$1,51 miliar.
"Sementara itu defisit utama yaitu berasal dari komoditas terutama mesin dan peralatan mekanis yaitu HS84 defisit sebesar US$2,23 miliar," tutupnya.
Siti Ayu Rachma
Siti Ayu Rachma meliput dan menulis berita untuk Periskop.id.
Add as a preferred
source on Google
Ikuti Kami:
WhatsApp Google News
Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan surplus perdagangan surplus
Bagikan:
Sebelumnya
Resmi! Jadwal Libur Lebaran 2026: Rincian Cuti Bersama ASN, Pegawai Swasta, dan Libur Sekolah 2 Pekan
Selanjutnya
Perbedaan Sunni dan Syiah: Sejarah, Ajaran, hingga Praktik Ibadah
Berita Terkait
BPS Sasar Pelaku Ekonomi Digital dalam Sensus Ekonomi 2026
BPS: Data Sensus Ekonomi 2026 Dijamin Rahasia, Bukan untuk Pajak
BPS Minta Pelaku Usaha Beri Data Valid dalam Sensus Ekonomi 2026
Ini Nih Provinsi Paling Aman Buat Jalan Sendirian, Tempatmu Termasuk?
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar
Komentar




