Tips Hemat Berbuka dan Sahur di Kairo Selama Ramadan
Fakta News Day - Menjadi perantau berarti hidup dengan banyak pertimbangan. Salah satunya adalah persoalan keuangan. Tidak jarang dompet justru lebih dahulu ‘berpuasa’ sebelum Ramadan benar-benar tiba. Selama empat tahun menetap di ‘Kota Seribu Klakson’ ini, saya mempelajari banyak hal. Salah satunya adalah belajar menekan ekspektasi. Termasuk selera makanan.
Walaupun di kota ini tersedia warung atau toko yang menjual makanan khas Nusantara, saya memilih ‘akrab’ dengan makanan khas lokal saja. Di samping harga relatif murah, rasanya pun pas untuk di lidah Indonesia saya. Dengan pilihan tersebut, menjadi hal membanggakan ketika Ramadan tiba. Saat semangat filantropis di kota ini nyaris tidak pernah surut, para dermawan berlomba-lomba menyediakan makanan berbuka, di mana hidangannya pun sudah akrab dengan saya.
Lokasi ‘bukber’ pun kadang berdekatan. Terasa ada semacam kompetisi yang tidak diucapkan. Semua berharap tempatnya dipenuhi jamaah, entah karena dorongan pahala atau keinginan agar makanan yang disediakan tidak tersisa. Sebagai perantau dengan anggaran terbatas, realitas tersebut menjadi keuntungan bagi saya. Persoalan menu berbuka sering kali selesai bahkan sebelum sempat dipikirkan. Semua disediakan secara cuma-cuma. Tinggal memilih saja.
Sejak awal Ramadan, saya terbiasa berkeliling selepas Ashar menuju titik-titik strategis yang rutin menyediakan makanan berbuka. Hampir seluruh lokasi di tempat tinggal saya (Darrasah) telah saya kunjungi. Saking seringnya, saya kerap menjadi sumber informasi bagi sesama ‘pemburu takjil’. Informasi mengenai lokasi dan menu sering dibagikan melalui grup percakapan. Namun, saya lebih sering keluar rumah tanpa rencana menu apapun. Tujuannya sederhana, yang penting pulang dalam keadaan kenyang. Kadang membawa sisa makanan, kadang bahkan membawa dua porsi.
Pola distribusi makanan berbuka pun beragam. Ada yang membagikan nasi kotak melalui antrean panjang di pinggir jalan. Orang-orang berdiri dengan sabar, wajah lelah. Kadang tertib, kadang ricuh. Ada pula yang memilih konsep jamuan, yang oleh warga setempat disebut Maidaturrahman, atau “Prasmanan Tuhan”. Meja disiapkan, kursi ditata, dan makanan dihidangkan satu per satu. Suasananya menyerupai jamuan resmi. Jamaah hanya perlu duduk, membaca Al-Qur’an, atau menunggu sambil memperhatikan para petugas hingga azan dikumandangkan.
Di antara sekian banyak lokasi berbuka puasa yang pernah saya datangi, Masjid Al-Azhar memiliki daya tarik tersendiri. Setiap hari, sekitar 4.000 porsi makanan berbuka dibagikan kepada para pelajar non-Arab. Jumlah itu tampak nyata ketika melihat barisan panjang bingkisan makanan dan jamaah yang duduk rapat. Menu berbuka di tempat ini selalu memuaskan. Porsinya besar dan mengenyangkan. Nasi dalam porsi gemuk, paha ayam berukuran besar, kofta, roti isy, kentang, serta berbagai pelengkap lainnya.
Namun, mendapatkan ‘mega bonus’ tersebut bukan perkara mudah. Jamaah harus mengantre cukup lama di gerbang masjid. Antrean itu dipadati ribuan orang dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Tidak jarang pula warga lokal ikut mengantre dan memicu ketegangan kecil. Dalam situasi seperti itu, kesabaran benar-benar diuji.
Selain itu, masjid ini juga menyediakan makanan sahur bagi jamaah yang melaksanakan salat Tahajud. Hidangan yang diberikan umumnya berupa sandwich. Jika datang lebih awal, isinya ayam; jika datang terlambat, biasanya berisi sayuran. Makanan dibagikan ketika salat berlangsung, sehingga konsentrasi ibadah terkadang terpecah antara doa dan aroma makanan yang lewat di depan sajadah.
Pada akhirnya, apabila beruntung dapat berbuka dan sekaligus melaksanakan ibadah malam di Masjid Al-Azhar, persediaan makanan bisa mencukupi untuk beberapa waktu. Sisa makanan bisa disimpan di kulkas, tinggal dipanaskan saja. Yang terpenting, tujuan awal tercapai, yaitu pengeluaran harian berkurang drastis. Jikalau semangat ‘war takjil’ konsisten dilakukan selama Ramadan, maka bisa dipastikan sebulan akan minim pengeluaran bahkan tidak ada.
Sebagaimana dinyatakan Hussein Aljassmi dalam lagunya, “ Ramadan fi Misr Haggah Taniah”, Ramadan di Mesir, termasuk di Kairo memang terasa berbeda. Bagi mereka yang makan untuk bertahan hidup, bukan untuk memuaskan selera, Kairo di bulan Ramadan terasa ramah. (AN)




