Strategi Hemat Belanja Selama Ramadan untuk Hindari Pemborosan
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Strategi Hemat Belanja Selama Ramadan untuk Hindari Pemborosan

JAKARTA, KOMPAS.com - Bulan Ramadan sering menjadi ujian bagi pengelolaan keuangan. Keinginan untuk memenuhi segala kebutuhan sahur, berbuka, hingga persiapan Lebaran, kerap memicu perilaku belanja impulsif yang berujung pada pemborosan.

Menilik hal tersebut, pemilik SARE Studio sekaligus kreator konten conscious fashion, Cempaka Asriani, membagikan strateginya dalam mengatur belanjaan.

Menurut dia, kunci agar tidak boros adalah kedisiplinan dalam mengelompokkan barang ke dalam kategori primer dan tersier.

"Pertama, kalau yang sifatnya barang-barang habis pakai, itu masuk ke primer enggak apa-apa," ujar Cempaka di Group media Interview TikTok bertajuk "#SerunyadiTikTok: Kiat Jalani Bulan Ramadan dengan Lebih Sehat dan Seimbang bersama Kreator TikTok" di Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026).

Tips belanja hemat saat bulan Ramadhan

1. Hindari menimbun produk karena godaan promo

Lihat Foto

Cempaka menekankan, barang habis pakai seperti bahan makanan pokok, serta produk perawatan kulit (skincare) dan produk perawatan tubuh (body care), termasuk dalam kategori primer. Namun, label "primer" bukan berarti hijau untuk dibeli dalam jumlah berlebih.

"Tapi jangan menyetok. Jangan langsung beli satu keranjang penuh, varian banyak, dan stok banyak. Jadi, beli kalau sudah habis. Selama polanya seperti itu, masuk ke kebutuhan primer aman," tutur dia.

Menurut Cempaka, menimbun stok karena tergiur promo justru berisiko merugikan karena adanya masa kedaluwarsa.

"Kita beli karena merasa perlu, tapi ketika beneran perlu, sudah enggak bisa dipakai karena sudah kadaluwarsa, jadinya mubazir. Buat apa buang-buang uang," ucap dia.

2. Tampil trendi tanpa harus beli baju baru

Selain urusan bahan pokok dan perawatan diri, pengeluaran yang kerap membengkak saat Ramadan juga datang dari kebutuhan sandang.

Keinginan untuk tampil menarik di berbagai agenda sosial sering kali membuat seseorang luput dalam mengontrol anggaran belanja pakaian.

Sebagian masyarakat punya kebiasaan membeli baju baru untuk menghadiri acara-acara yang memiliki dress code, alias ketentuan pakaian.

Untuk wartawan, misalnya, terkadang ada agenda liputan yang mengharuskan awak media menggunakan jenis atau warna pakaian tertentu, menyesuaikan tema acara yang sedang digelar.

Lihat Foto

Begitu pula dengan kegiatan buka puasa bersama, atau perayaan Idul Fitri, yang membuat orang-orang menggunakan pakaian dengan model atau warna selaras agar terlihat kompak.

Cempaka menilai bahwa pakaian termasuk ke dalam kategori primer, termasuk pakaian "tematik". Namun, ia menyarankan cara yang lebih ekonomis daripada membeli baru.