Strategi Hemat Belanja Baju Lebaran Tanpa Mengorbankan Gaya
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Strategi Hemat Belanja Baju Lebaran Tanpa Mengorbankan Gaya

JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Idul Fitri berbagai tawaran promo belanja dengan potongan harga yang menggiurkan bisa bikin kita melupakan niat untuk berhemat. Untuk produk pakaian, tak jarang kita membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan atau sudah punya dengan model yang mirip.

Sustainability Lead PT Fast Retailing Indonesia (Uniqlo), Michelle Marietta Secoa, mengungkapkan, salah satu cara untuk mengontrol keinginan belanja pakaian sepanjang bulan puasa adalah dengan memiliki pakaian model timeless (tidak lekang oleh waktu).

“Produk timeless itu bisa dipakai kapan saja. Bahkan mungkin versi yang tahun-tahun sebelumnya bisa dipakai lagi karena masih berkualitas,” ucap dia kepada Kompas.com di Jakarta Pusat, Rabu (25/2/2026).

Investasi gaya lewat desain yang tidak lekang oleh waktu

Michelle menjelaskan, konsep LifeWear yang diusung Uniqlo sebagai salah satu contoh pakaian dengan model timeless.

Ia menuturkan, konsep tersebut mengedepankan desain klasik dan tak lekang waktu. Sebab, produk tidak dibuat untuk sekadar mengikuti tren sesaat.

“Tidak mengikuti tren, sehingga siluetnya juga masih yang umum. Mungkin bisa dipakai dengan pakaian yang lama (yang sudah dimiliki), tapi dia memberikan sentuhan yang baru,” tutur Michelle.

Lihat Foto

Padu padan agar tidak kalap saat promo

Michelle juga melihat fenomena "kalap" belanja produk fesyen di hari-hari besar seperti Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

“Sebenarnya, kebutuhan dasar pakaian kan hanya untuk melindungi tubuh kita. Tapi sekarang pakaian bisa menjadi identitas diri, cara mengekspresikan diri, dan citra diri juga,” terang dia.

Pergeseran identitas inilah yang kerap membuat isi lemari menjadi penuh dengan berbagai gaya yang justru sulit diserasikan satu sama lain.

Padahal, kunci untuk tetap tampil sesuai kepribadian tanpa harus menambah tumpukan baju baru, terletak pada kemampuan eksplorasi gaya.

“Targetnya bukan untuk terus-menerus (belanja pakaian) mengikuti tren, tapi menggunakan pakaian yang sudah ada, dan dipadupadan (menciptakan nuansa baru),” sambung dia.

Sentuhan personal untuk menghidupkan pakaian lama

Selain permainan layering, kejenuhan terhadap pakaian lama juga bisa diatasi dengan memberikan detail baru pada pakaian tersebut.

Bukannya membuang baju yang sudah mulai membosankan, memberikan sentuhan dekoratif bisa menjadi solusi yang lebih berkelanjutan.

“Mungkin merasa (tampilan) bajunya itu-itu lagi, tapi diberikan aksen yang bisa menghidupkan kembali pakaian lama tersebut,” kata dia.

Tantangan di tengah tren pakaian yang cepat berubah

Menurut Michelle, menjadi konsumen yang bijak di tengah arus tren fesyen yang cepat berganti memang tidak mudah.