Seruan Keadilan dalam Menghadapi Konflik Amerika-Israel dan Iran
Fakta News Day - Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), KH Bachtiar Nasir, mengajak umat Islam Indonesia untuk menyikapi serangan Israel terhadap Iran secara proporsional. Ia menekankan pentingnya membedakan antara persoalan akidah Sunni–Syiah dengan prinsip keadilan dalam konteks hubungan internasional.
Menurutnya, kegelisahan sebagian umat terkait perbedaan teologis antara Sunni dan Syiah merupakan hal yang dapat dipahami. Namun, dalam konteks konflik yang terjadi, umat diminta tidak mencampuradukkan ranah akidah dengan persoalan muamalah politik global.
“Dalam ranah akidah, posisi Ahlussunnah wal Jama’ah sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan kembali. Batas-batas teologis tetap kita jaga,” ujar Bachtiar melalui keterangan persnya kepada Hidayatullah, Senin (02/03/2026).
Ia menegaskan, dalam konteks serangan Israel terhadap Iran, yang sedang kita hadapi bukan perdebatan teologi, melainkan persoalan kezaliman dan dinamika politik internasional.
Menurutnya menolak agresi terhadap suatu negara tidak otomatis berarti menyetujui seluruh doktrin teologis negara tersebut. Dalam ajaran Islam, lanjutnya, prinsip membela pihak yang dizalimi berlaku universal, tanpa memandang latar belakang suku maupun perbedaan mazhab.
Lebih lanjut, pendiri AQL ini juga menilai konflik ini perlu dilihat dalam bingkai geopolitik kawasan. Ia menyebut Iran sebagai salah satu aktor regional yang selama ini secara terbuka menyatakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina, termasuk isu Al-Quds dan Gaza.
Karena itu, serangan terhadap Iran dinilai memiliki implikasi lebih luas terhadap peta dukungan di kawasan, khususnya terkait perjuangan Palestina. “Menyikapi konflik ini tidak cukup hanya dengan pendekatan mazhab, tetapi juga dengan membaca dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan perjuangan rakyat Palestina,” katanya.
Hindari Polarisasi
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar umat Islam Indonesia tidak terjebak pada polarisasi internal yang berlebihan. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa perpecahan internal kerap melemahkan posisi umat dalam menghadapi tantangan eksternal.
“Polarisasi Sunni–Syiah yang dipertajam justru berpotensi mengalihkan perhatian dari isu kemanusiaan dan keadilan yang lebih mendesak,” ujarnya.
Ia menegaskan, sikap yang bijak adalah tetap menjaga prinsip akidah masing-masing, sembari konsisten terhadap nilai keadilan dan kemanusiaan universal. Dengan demikian, umat Islam Indonesia dapat memandang konflik tersebut sebagai konflik antarnegara dalam tataran politik internasional, namun tetap menyadari implikasinya terhadap stabilitas kawasan dan solidaritas dunia Islam.
“Akidah tetap pada tempatnya. Namun dalam menghadapi ketidakadilan dan agresi, diperlukan kedewasaan untuk membedakan antara perbedaan teologis dan sikap terhadap prinsip keadilan serta kedaulatan,” pungkasnya.*




