Rupiah Anjlok ke Rp16.788 per Dolar AS karena Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed
Sumber Foto: Merdeka.com
Internasional

Rupiah Anjlok ke Rp16.788 per Dolar AS karena Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar AS pada Jumat pagi. Berbagai sentimen global, mulai dari ketegangan geopolitik hingga kebijakan The Fed, menekan kinerja mata uang Garuda.

01:07:00

Nilai tukar Rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat (27/2/2026), menunjukkan pelemahan signifikan. Mata uang Garuda ini bergerak melemah 29 poin atau sekitar 0,17 persen.

Pelemahan ini membawa Rupiah ke level Rp16.788 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.759 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan respons pasar terhadap berbagai sentimen eksternal yang memengaruhi stabilitas ekonomi global.

Sejumlah faktor utama yang menjadi pemicu pelemahan Rupiah ini meliputi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, ketidakpastian terkait kebijakan tarif perdagangan AS, serta pergeseran ekspektasi pasar terhadap jalur kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan Perdagangan Global

Pelemahan Rupiah pada Jumat ini tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di tingkat global, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Washington dikabarkan mengerahkan lebih banyak kapal ke Timur Tengah dan mengancam tindakan militer jika Teheran tidak menerima kesepakatan nuklir.

Pembicaraan mengenai ambisi nuklir Teheran yang berakhir tanpa kesepakatan jelas pada Kamis (26/2) semakin menambah ketidakpastian di pasar. Meskipun kedua pihak mengisyaratkan akan melanjutkan negosiasi, pelaku pasar cenderung bersikap waspada terhadap potensi eskalasi konflik.

Selain itu, ketidakpastian atas perekonomian AS juga menjadi beban bagi Rupiah, terutama pascaputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian tarif perdagangan Presiden Donald Trump. Respons Trump dengan mengumumkan tarif baru di bawah kerangka hukum yang berbeda, serta ancaman pemberlakuan bea masuk tambahan, membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan ekonomi lebih lanjut.

Prospek Kebijakan Moneter The Fed dan Dampaknya

Pasar juga sedang mengevaluasi kembali jalur kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Para pembuat kebijakan The Fed masih mengkhawatirkan inflasi yang tinggi, sehingga ekspektasi penurunan suku bunga bergeser.

Secara luas, pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan di bulan Maret dan April. Penurunan suku bunga yang sebelumnya dianggap paling mungkin terjadi pada bulan Juni, kini tampaknya kurang pasti.

Menurut CME FedWatch Tool, pertemuan di bulan Juli kini menjadi waktu yang paling mungkin untuk penurunan suku bunga AS, dengan probabilitas sekitar 66 persen. Pergeseran ekspektasi ini mengurangi daya tarik aset berisiko dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang seperti Rupiah.

Faktor Domestik dan Tekanan Bea Masuk

Dari sisi domestik, sentimen negatif turut datang dari kebijakan perdagangan AS yang baru. Amerika Serikat telah menetapkan bea masuk imbalan atas impor sel dan panel surya dari beberapa negara, termasuk Indonesia.

Secara rinci, AS menetapkan tarif subsidi umum sebesar 104,38 persen untuk impor dari Indonesia. Kebijakan ini mendukung produsen tenaga surya domestik AS dan dapat berdampak pada ekspor Indonesia, menambah tekanan pada nilai tukar Rupiah.