Perbaikan atau Ganti? Panduan Memilih Pelek Motor yang Aman
JAKARTA, KOMPAS.com – Sering menghantam lubang, terutama saat musim hujan, bukan hanya bikin motor oleng, tetapi juga bisa berujung pada pengeluaran besar.
Pelek yang peang atau retak memaksa pemilik motor memilih dua opsi: diperbaiki dengan metode pres atau sekalian diganti baru.
Lalu, mana yang lebih masuk akal dari sisi biaya dan keamanan?
Wahyu Budhi, Training Analyst PT Wahana Makmur Sejati, diler motor Honda wilayah Jakarta-Tangerang, mengungkapkan harga pelek baru tidak bisa dibilang murah. “Harga pelek skutik Honda mulai Rp 700.000 sampai Rp 2 jutaan,” ujar Wahyu, kepada Kompas.com, Selasa (24/2/2026).
Angka tersebut tentu menjadi pertimbangan besar, terutama bagi pemilik skutik harian.
Apalagi risiko kerusakan meningkat saat musim hujan. “Musim hujan memang sering jadi musuh buat pelek ya. Lubang yang tertutup genangan air itu benar-benar jebakan batman buat pengendara motor,” kata dia.
Karena itu, banyak pemilik motor memilih jalur perbaikan dengan metode pres yang biayanya jauh lebih terjangkau dibandingkan membeli unit baru.
Lihat Foto
Namun, menurut Wahyu, langkah ini tidak bisa dilakukan sembarangan. “Amankah metode pres? Tergantung jenis kerusakan dan material peleknya,” ucap dia.
Untuk pelek jari-jari (spoke wheel), perbaikan relatif aman dan bahkan disarankan jika kerusakan masih dalam batas wajar.
Biasanya cukup dilakukan penyetelan ulang pada jari-jari atau penggantian ring pelek bila kondisinya terlalu parah.
Karakter pelek jari-jari yang lebih fleksibel membuat proses perbaikan tidak terlalu berisiko terhadap struktur roda.
Lihat Foto
Sebaliknya, pada pelek racing (cast wheel), pertimbangannya lebih kompleks.
Jika hanya peang atau penyok ringan, pres masih tergolong aman, terutama bila dilakukan oleh teknisi profesional menggunakan alat hidrolik tanpa panas berlebih.
Namun, jika proses melibatkan suhu tinggi, ada konsekuensi terhadap struktur material.
Pada pelek berbahan logam cor, paparan panas ekstrem dapat mengubah tingkat kekerasan logam atau memicu metal fatigue. Dampaknya, pelek yang sudah dipres bisa menjadi lebih mudah peang kembali saat menghantam lubang di kemudian hari.




