Mengisi Waktu Puasa dengan Bacaan Inspiratif dan Film
Fakta News Day - Bagi siapa pun yang pernah mendaki gunung di musim hujan, pasti sangat akrab dengan momen terjebak badai di dalam tenda. Ketika angin menderu kencang di luar dan suhu merosot tajam, kita tidak punya pilihan selain berdiam diri di dalam shelter kain berukuran dua meter persegi. Waktu seolah membeku. Rasa bosan dan cemas kerap kali datang menyergap. Di saat-saat seperti itulah, seorang pejalan yang tangguh tahu bagaimana cara merawat kewarasannya: membuka buku catatan, membaca lembaran novel, atau sekadar memutar film dokumenter dari gawai yang tersimpan di dalam sleeping bag.
Bulan Ramadan, dalam dimensi yang berbeda, seringkali menyajikan "badai kebosanan" serupa. Terutama di jam-jam rawan menjelang asar hingga maghrib. Ketika tubuh sedang berada di titik terendah energinya dan kita tengah menerapkan puasa digital (digital detox) dari riuhnya linimasa media sosial, keheningan di kamar kos seringkali terasa mengintimidasi.
Banyak orang memilih membunuh waktu dengan tidur panjang atau scrolling tanpa arah. Namun bagi saya, waktu terlalu berharga untuk sekadar "dibunuh". Saya lebih suka menghidupkannya. Sore hari di bulan puasa adalah momen terbaik untuk menyuplai "logistik akal".
Jika perut saya diistirahatkan, maka pikiran saya harus diberi nutrisi terbaik. Berikut adalah beberapa karya aksara dan visual andalan yang selalu berhasil membawa saya menembus ruang dan waktu, tanpa harus menghabiskan satu kalori pun dari sisa tenaga puasa saya.
Menyusuri Peta Takdir Bersama Sang Alkemis
Jika ada satu buku yang selalu saya letakkan di bagian teratas carrier saya baik secara fisik maupun metaforis buku itu adalah "Sang Alkemis" (The Alchemist) karya Paulo Coelho.
Buku ini bukan sekadar novel, melainkan kompas spiritual. Ia bercerita tentang Santiago, seorang anak gembala yang berani menjual domba-dombanya demi melakukan perjalanan epik membelah padang pasir menuju Piramida Mesir untuk mencari harta karun.
Setiap kali saya merasa bosan atau kehilangan arah di tengah rutinitas Ramadan, membaca ulang buku ini selalu memberikan tamparan yang menyegarkan. Perjalanan Santiago menahan dahaga di gurun pasir selalu mengingatkan saya pada ekspedisi puasa kita saat ini. Ia juga selaras dengan resolusi terbesar saya tahun ini: mengumpulkan logistik finansial secara frugal demi bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci dan napak tilas sejarah Habasyah.
Sang Alkemis mengajarkan konsep Maktub bahwa segala sesuatu telah tertulis, dan ketika kita benar-benar menginginkan sesuatu, seluruh semesta akan bersatu membantu kita mewujudkannya. Ini adalah buku anti-bosan yang justru membuat dada bergemuruh oleh semangat baru.




