Investor Diminta Tetap Rasional di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
Sumber Foto: Liputan6.com
Internasional

Investor Diminta Tetap Rasional di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Fakta News Day - Liputan6.com, Jakarta - Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengimbau para investor untuk tetap bersikap rasional dalam menyikapi meningkatnya ketidakpastian akibat eskalasi geopolitik global.

Ia menegaskan, dinamika geopolitik yang berkembang di berbagai kawasan dunia berpotensi memengaruhi sentimen pasar keuangan, termasuk pasar modal domestik. Karena itu, investor diminta tidak terbawa sentimen jangka pendek yang dapat memicu keputusan investasi secara emosional.

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya penyesuaian strategi investasi sesuai dengan profil risiko masing-masing investor, terutama di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

“Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor,” pungkasnya.

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,44% atau 36,28 poin ke level 8.235 sepanjang 23–27 Februari 2026. Tekanan terutama datang dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan perubahan kebijakan ekonomi global yang memengaruhi sentimen pasar domestik.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyebut ketegangan di Timur Tengah memanas, kebijakan dagang Amerika Serikat berubah-ubah, serta ada peringatan tekanan fiskal Indonesia dari lembaga pemeringkat kredit. Kombinasi faktor tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.

Sentimen Sepekan

Di tingkat global, situasi memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah target strategis Iran dalam operasi bernama Operation Epic Fury.

Serangan dilaporkan menewaskan lebih dari 200 warga Iran dan melukai ratusan lainnya, termasuk korban dari kalangan anak sekolah. Israel juga menyebut ada indikasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, meski belum ada konfirmasi independen.

Dampaknya merembet ke sektor energi global, terutama setelah Iran melalui IRGC mengumumkan penutupan atau pembatasan akses Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar 20–25% pasokan minyak dan LNG dunia. Gangguan di jalur ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak serta meningkatkan biaya logistik dan asuransi pengiriman.

"Di tengah meningkatnya ketidakpastian global tersebut, kebijakan ekonomi Amerika Serikat juga mengalami perubahan signifikan pekan ini. Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Trump karena dianggap melampaui kewenangan hukum, memaksa administrasi AS untuk mencari dasar hukum baru guna mempertahankan beberapa kebijakan tarif tersebut," jelas Imam dalam keterangan resmi, dikutip Senin (2/3/2026).

Kenaikan Tarif Impor Trump

Perbesar

Trump lalu mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15%. Selain itu, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan tarif 86% hingga 143,3%. Ketentuan tarif tinggi ini dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS Imam menambahkan, eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan Selat Hormuz membuat sektor energi dan komoditas menjadi sorotan.

Kenaikan harga minyak dapat menguntungkan emiten batu bara dan migas, namun menekan sektor padat energi seperti aviasi dan manufaktur. Di sisi lain, ketidakpastian global juga berpotensi mendorong kenaikan harga emas.