Investor Cemas Gelembung AI Lebih Berbahaya daripada Geopolitik
PIKIRAN RAKYAT - Survei dari Bank of America (BofA) menyebutkan risiko gelembung AI atau AI bubble menjadi hal yang paling dikhawatirkan para investor kredit dibanding kondisi geopolitik dunia.
"Hanya sedikit yang khawatir tentang geopolitik atau kesalahan kebijakan bank sentral,” tulis ahli strategi BofA, Barnaby Martin, dalam catatan yang diterbitkan Selasa, 24 Februari 2026 waktu setempat, dikutip dari Bloomberg.
Dalam surveinya, bank swasta terbesar di Amerika Serikat itu menemukan sekitar 23% responden melihat ancaman gelembung AI sebagai kekhawatiran utama mereka, naik dari 9% dalam survei BofA sebelumnya pada Desember 2025.
Meskipun teknologi AI terus berkembang, pasar kini mempertanyakan kapan keuntungan akan tiba. Jika ekspektasi pertumbuhan tidak terpenuhi dalam laporan keuangan, pasar kredit memprediksi akan terjadi volatilitas tinggi yang bisa merembet ke sektor ekonomi lainnya.
Survei juga menemukan kekhawatiran atas meningkatnya investasi pada valuasi perusahaan AI tidak mengalahkan bubble in credit atau gelembung kredit.
“Namun, para investor lebih optimis mengenai disrupsi teknologi besar yang akan datang: hanya 10% yang menyatakan bahwa ketertinggalan perusahaan akibat AI adalah kekhawatiran terbesar mereka,” tulis para ahli strategi tersebut.
Survei BofA itu melibatkan 54 klien unggulan seperti perusahaan asuransi hingga dana pensiun.
Situasi ini mengingatkan para analis pada ledakan gelembung internet tahun 2000, di mana euforia teknologi mendahului kemampuan perusahaan untuk mencetak laba.




