Inovasi Teknologi Fine Bubble Tingkatkan Efisiensi Produksi Biodiesel dari PFAD
Sumber Foto: HaiSawit
Teknologi

Inovasi Teknologi Fine Bubble Tingkatkan Efisiensi Produksi Biodiesel dari PFAD

Fakta News Day - Jakarta, HAISAWIT – Riset terbaru dari IPB University bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan metode non-katalitik untuk mengolah turunan sawit menjadi bahan bakar nabati di Bogor, Maret 2026.

Teknologi Fine Bubble (TFB) diaplikasikan sebagai reaktor kolom gelembung guna meningkatkan efisiensi konversi energi. Inovasi ini bertujuan menekan biaya operasional produksi biodiesel melalui pemanfaatan residu pemurnian minyak goreng yang bernilai ekonomis.

Dilansir dari YouTube Hai Sawit TV, Kamis (05/03/2026), hasil samping produksi minyak goreng berupa Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) memiliki harga lebih murah dibandingkan Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku utama.

Pemanfaatan PFAD secara teknis mampu menurunkan nilai investasi karena prosesnya tidak memerlukan banyak peralatan tambahan. Penggunaan sistem non-katalitik secara otomatis menghilangkan kebutuhan akan katalis kimia yang umumnya bersifat korosif terhadap mesin produksi.

Teknologi gelembung halus ini bekerja dengan prinsip memperkecil ukuran diameter oksigen atau gas yang diinjeksikan ke dalam reaktor. Fenomena fisik tersebut secara hipotesis memperluas area kontak antara molekul metanol dengan bahan baku asam lemak.

Laju reaksi kimia di dalam reaktor meningkat secara signifikan seiring dengan semakin kecilnya ukuran gelembung yang dihasilkan. Implikasinya, angka konversi PFAD menjadi biodiesel menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional tanpa bantuan alat injeksi khusus.

Proses produksi ini melibatkan beberapa tahapan teknis yang dilakukan secara sistematis di laboratorium riset:

Pencairan bahan baku PFAD yang berbentuk padat pada suhu ruang.

Persiapan peralatan melalui pembersihan pipa menggunakan gas nitrogen.

Pemanasan reaktor hingga mencapai suhu operasional yang ditentukan.

Pengaliran metanol menggunakan pompa berat dengan laju alir terukur.

Penelitian ini menggunakan perangkat Nozel Fine Bubble yang dirancang khusus agar kompatibel dengan karakteristik fluida minyak sawit. Karakterisasi ukuran gelembung dipantau secara ketat menggunakan alat Particle Size Analyzer (PSA) untuk mendapatkan data akurat.

Selain pengukuran partikel, peneliti menggunakan Vertical Image Orifice guna memantau pergerakan gelembung mikro di dalam kolom reaktor. Data visual ini sangat krusial guna memastikan distribusi gas berlangsung merata di seluruh bagian cairan lemak.

Analisis kualitas produk akhir dilakukan melalui pengambilan sampel secara berkala setelah suhu reaksi stabil tercapai. Setiap sampel hasil pemrosesan kemudian dipreparasi sebelum masuk ke tahap pengujian laboratorium untuk melihat komposisi kimia serta kadar asamnya.

Terdapat dua instrumen utama yang digunakan dalam tahap analisis kualitas produk biodiesel hasil riset ini:

Titrinometer untuk mengukur angka asam secara presisi.

Gas Chromatography (GC) untuk membedah komposisi penyusun bahan bakar.

Kegiatan pengembangan energi terbarukan ini berlangsung di tiga lokasi strategis, yaitu Kampus IPB Dramaga, KST BJ Habibie Serpong, dan KST Samaun Samadikun Bandung. Seluruh rangkaian pengujian mendapat dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Riset masih berjalan guna menemukan titik optimal pada kondisi operasi reaktor agar standar mutu biodiesel nasional terpenuhi. Pencapaian ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat ketahanan energi nasional berbasis komoditas perkebunan unggulan Indonesia.***