Indonesia Hadapi Tekanan Ganda di Tengah Ketidakpastian Global
Liputan6.com, Jakarta - Situasi ketidakpastian global saat ini memiliki dampak terhadap kondisi ekonomi. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada jalur penguatan, sementara Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) pada Triwulan III Tahun 2025 tetap terjaga.
Merespons hal itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dave Laksono, mengingatkan ihwal faktor eksternal yang perlu diwaspadai, termasuk dampak tarif impor Amerika Serikat, konfrontasi geoekonomi, tren reshoring dan friendshoring, dan eskalasi ketegangan geopolitik.
"Dinamika global mengubah pola kompetisi antarnegara. Eskalasi ketegangan geopolitik dan friksi geoekonomi membentuk ulang pola kompetisi global,” kata Dave dalam Seminar Nasional 2026 di Jakarta, seperti dikutip dari keterangan pers, Kamis (26/2/2026).
Menurut Dave, negara berkembang seperti Indonesia menghadapi tekanan ganda, menjaga ketahanan domestik sekaligus mempertahankan posisi tawar internasional. Karena itu, Pemerintah saat ini berupaya meningkatkan kepercayaan publik untuk menjaga daya tarik investasi.
“Presiden bersama para menteri sedang menaikkan kepercayaan publik dan kapasitas, agar Indonesia terus dilirik sebagai destinasi investasi yang ujungnya terciptanya lapangan pekerjaan,” yakin Dave.
Dave juga menilai, stabilitas nasional sangat dipengaruhi kemampuan Indonesia membangun jejaring kerja sama tanpa kehilangan independensi kebijakan luar negeri. Mengutip laporan internasional sebagai indikator risiko global, pada tahun 2025 mencatat banyak responden memandang outlook global menuju turbulensi, di mana misinformasi, polarisasi, dan migrasi menjadi risiko utama.
"Kondisi ini menuntut penguatan literasi kebijakan dan komunikasi publik untuk mengantisipasi penyebaran krisis," wanti dia.
Prinsip Koeksistensi Damai
Dalam perspektif geopolitik, Dave mendorong pentingnya prinsip koeksistensi damai. Situasi ini menuntut hidup berdampingan secara damai, membangun kerja sama dengan tetap menghormati kedaulatan bangsa lain.
"Temuan World Uncertainty Index, kenaikan ketidakpastian dapat menekan output ekonomi selama beberapa tahun. Di tingkat domestik, ekspektasi publik dan pelaku usaha turut menentukan stabilitas," dia menutup.
Sebagai informasi, Seminar Nasional 2026 diselenggarakan oleh Forum Diskusi Nasional (FDN) dan Pimpinan Pusat Kooektif (PPK) Kosgoro 1957 di Kampus 1BI-Kosgoro 1957, Jakarra Selatan, Rabu (25/2) mengangkat tema "Dynamic Resilience: Menjaga Stabilitas Pembangunan Nasional di Tengah Ketidak pastian Global".
Acara tersebut menghadirkan sejumlah panelis top seperti Kepala Pusat Strategi Kebijakan Isu Khusus dan Analisis Data(IKAD) di Badan Strategi Kebujakan Luar Negeri (BSKLN) Kementerian Luar Negeri, Gita Loka Murti; Duta Besar Dr. Nana Yuliana selaku Kepala Perwakilan RI untuk Kuba (2020-2025). Acara dimoderatori Direktur Riset dan Pengembangan Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) dan Tenaga Ahli Utama Kedeputian Geopolitik, Dewan Pertahanan Nasional, Dr. lan Montratama.




