IHSG Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Sumber Foto: Neraca.co.id
Internasional

IHSG Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

NERACA

Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (26/1) sore ditutup menguat 24,32 poin atau 0,27% ke posisi 8.975,33. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 8,84 poin atau 1,01% ke posisi 882,43,“Bursa regional Asia yang cenderung melemah terbebani oleh ketegangan geopolitik dan menjelang keputusan suku bunga The Fed pekan ini,” ujar Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Dari mancanegara, pelaku pasar mencermati meningkatnya risiko konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng), setelah kapal induk AS dikerahkan ke wilayah tersebut sebagai bagian dari peningkatan kekuatan militer seiring ketegangan dengan Iran. Di sisi lain, menjelang keputusan suku bunga bank sentral AS The Fed, pelaku pasar mengamati secara cermat sinyal arah suku bunga acuan menjelang keputusan The Fed.

Dari dalam negeri, International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,0% pada 2025, dan meningkat menjadi 5,1% pada 2026, seiring meningkatnya kepercayaan pada kebijakan fiskal pro-pertumbuhan. Di sisi lain, IMF meminta Bank Indonesia (BI) lebih berhati-hati dalam melakukan intervensi rupiah di pasar valuta asing, serta IMF menyampaikan nilai tukar rupiah harus tetap berfungsi sebagai peredam guncangan utama di tengah tingginya ketidakpastian global.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik sebesar 3,85%, diikuti oleh sektor transportasi & logistik dan sektor barang konsumen primer yang naik masing-masing sebesar 1,71% dan 0,26%.

Sedangkan, delapan sektor melemah yaitu sektor energi turun paling dalam sebesar 2,26%, diikuti oleh sektor industri dan sektor properti yang masing-masing turun sebesar 2,19% dan 2,08%. Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu JAST, MPIX, BBRM, GTRA dan ELSA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni INET, MINA, KIOS, TRIN, dan GTSI.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.836.236 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 57,52 miliar lembar saham senilai Rp36,97 triliun. Sebanyak 267 saham naik, 428 saham menurun, dan 110 tidak bergerak nilainya.