Harga Emas Naik di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Permintaan Safe Haven
Fakta News Day - Harga emas kembali menunjukkan penguatan, melampaui level US$5.300, seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap aset-aset yang dianggap aman (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Pada awal perdagangan Senin, 2 Maret 2026, pukul 6.18 WIB, harga emas di pasar spot mengalami kenaikan sebesar 1,25% atau setara dengan 66,05 poin, mencapai US$5.344,98 per troy ounce, menurut data dari Bloomberg.
Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS ditutup dengan penguatan sebesar 1,03% pada akhir perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, mencapai US$5.247,9.
Para analis berpendapat bahwa serangan militer terhadap Iran mendorong para investor untuk mencari perlindungan bagi portofolio mereka melalui aset-aset lindung nilai.
Phillip Streible, Chief Market Strategist Blue Line Futures, mengatakan, "Anda hanya perlu melihat apa yang terjadi pada saham dan emas saat ini. Sangat mudah menentukan aset mana yang ingin Anda miliki sekarang," seperti dikutip Kitco News, Senin (2/3).
Streible juga menekankan bahwa pemulihan harga emas yang signifikan pada bulan ini mencerminkan perubahan sentimen investor terhadap logam mulia ini.
"Anda melihat manfaat besar dari memiliki emas, dengan kenaikan yang solid dan diversifikasi portofolio saat saham melemah. Pergerakan harga terbaru di pasar keuangan terus memperkuat peran emas dalam portofolio," ujarnya.
Emas dan perak mengalami lonjakan signifikan dari titik terendahnya, meskipun masih di bawah puncak yang tercatat pada bulan Januari. Saat ini, harga emas telah meningkat sebesar 19% dari level sekitar US$4.400 per ons, sementara harga perak melonjak lebih dari 45%.
Chief Market Analyst FP Markets, Aaron Hill, menyatakan optimismenya terhadap emas, namun ia juga berpendapat bahwa peluang untuk menembus rekor tertinggi baru dalam waktu dekat masih terbatas.
“Pemulihan bulanan emas yang kuat setelah volatilitas Januari menandakan tren naik jangka panjang masih kokoh secara struktural, ditopang permintaan safe haven dan ekspektasi suku bunga yang lebih rendah. Namun, dalam jangka pendek, pergerakannya lebih menyerupai konsolidasi terkendali ketimbang momentum yang tak terkendali,” katanya.
Emas tetap sensitif terhadap arah kebijakan moneter AS, meski terus didukung sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik.
U.S. Labor Department melaporkan bahwa inflasi grosir tahunan meningkat menjadi 2,9% pada hari Jumat, melampaui ekspektasi yang sebesar 2,6%. Kondisi ini berpotensi menjadi penghambat bagi emas karena dapat memaksa Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga lebih lama dari perkiraan.
Hill juga berpendapat bahwa harga emas cenderung melanjutkan fase konsolidasi dalam situasi ini.
“Sampai The Fed memberikan panduan yang lebih jelas, pergerakan harga akan cenderung bergerak dalam rentang tertentu, dengan PPI sebagai katalis jangka pendek: inflasi yang lebih rendah mendorong kenaikan melalui penurunan imbal hasil riil, sementara data yang lebih panas bisa memicu tekanan sementara, namun kecil kemungkinannya menggoyahkan tren bullish jangka panjang kecuali benar-benar mengubah ekspektasi suku bunga,” ujarnya.




