Geopolitik Global Memanas, SBY Wanti-wanti Perang Dunia III dan Desakan RI Tegas pada Politik Nonblok
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Geopolitik Global Memanas, SBY Wanti-wanti Perang Dunia III dan Desakan RI Tegas pada Politik Nonblok

JAKARTA, KOMPAS.com - Situasi geopolitik secara global semakin memanas seiring dengan kebijakan Amerika Serikat di beberapa negara.

Misalnya terkait aksi demonstrasi di Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan ikut campur jika aksi pelanggaran hak asasi manusia dalam demonstrasi di negara tersebut tak dihentikan.

Aksi demonstrasi di Iran sejak awal tahun 2026 diketahui telah menewaskan lebih dari 5.000 orang.

Selain upaya intervensi AS ke Iran, Trump juga awal tahun ini sudah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Di samping itu, Trump juga berambisi mengambil Greenland, pulau terbesar di dunia yang merupakan wilayah kedaulatan Denmark.

Presiden Prabowo Utamakan Keselamatan WNI Sembari Dorong Deeskalasi Israel-Iran

Artikel Kompas.id

Situasi yang memanas tak hanya datang dari Amerika Serikat, tetapi juga perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung menemui ujung, dan ketegangan di kawasan Asia-Pasifik, antara Jepang, Taiwan, dan China.

Situasi ini membuat Presiden Keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono khawatir, jika tak diredam, tak menutup kemungkinan Perang Dunia Ketiga akan segera tayang.

"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah," kata SBY, dalam unggahannya di X, dikutip Senin (19/1/2026).

Meskipun meyakini perang dunia ketiga dapat dicegah, namun SBY menilai ruangnya semakin sempit.

"Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit," ucap dia.

Indonesia dan Kekuatan Negara Selatan

Guru Besar Tetap Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) Yon Machmudi menilai, kondisi ini menuntut ketegasan sikap Indonesia dalam mempertahankan politik nonblok.

Salah satu keunggulan Indonesia di mata dunia adalah mampu membawa negara global south yang sering dipandang sebelah mata sebagai gerakan deeskalasi krisis global.

"Maka tidak ada kata lain ya, Indonesia sebagai kekuatan Non-Blok dan memilki semangat di dalam kekuatan selatan, ya harus menyuarakan ini, menolak intervensi (Amerika Serikat) dan meminta agar masalah diselesaikan secara damai atau dengan diplomasi," ucap Yon kepada Kompas.com, Senin.

Indonesia masih bisa mendorong negara-negara besar untuk memikirkan nasib negara selatan yang paling terdampak dalam pusaran konflik global.

Seperti pepatah "gajah bertarung lawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah." Hal senada disampaikan Director of Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Ahmad Khoirul Umam.