Dominasi Timnas Spanyol di Sepak Bola: Kekuatan Kolektivitas dan Kecerdasan Bermain
PELATIH Georgia, Willy Sagnol, mengungkapkan kekaguman atas performa Timnas Spanyol yang mengalahkan para pemainnya dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026. “Spanyol tidak hanya bermain di dunia lain, mereka bermain di semesta yang berbeda,” kata mantan pemain tim nasional Prancis itu, seusai kekalahan 0-2 di Stadion Manuel Martinez Valero pada 12 Oktober lalu.
Ucapan Sagnol menggambarkan dominasi Spanyol di bawah pelatih Luis de la Fuente. Dalam dua laga terakhir, La Roja menaklukkan Georgia dan Bulgaria, sekaligus menyamai rekor tak terkalahkan sepanjang masa dengan 29 pertandingan kompetitif tanpa kekalahan. Rekor ini sebelumnya dipegang generasi emas Iker Casillas, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, hingga David Villa.
Ada satu hal penting yang membuat Sagnol tercengang. Spanyol melakukannya tanpa sebagian besar pemain utama. Pemain seperti Rodri, Dani Carvajal, Gavi, Dani Olmo, Alvaro Morata, Lamine Yamal, Ferran Torres hingga David de Gea absen. Tanpa mereka, Spanyol tetap bermain dominan dan efisien.
Analis sepak bola dari ESPN Mark Ogden sampai bertanya-tanya berapa banyak negara lain yang bisa kehilangan begitu banyak pemain top tetapi tetap bermain mendominasi. “Mungkin tidak ada,” ujar dia.
Bagi Sagnol, kekuatan tim nasional Spanyol, yang saat ini menjadi tim peringkat nomor satu FIFA, bukan kebetulan. “Di tahun 1980-an dan 1990-an, mereka bermain bagus tapi tidak memenangi apapun. Sekarang mereka memetik hasil dari perencanaan dan latihan selama 25 tahun,” ujar pemain yang meraih sukses bersama Bayern Munchen dan mengantar Prancis menjadi runner up Piala Dunia 2026, dikutip dari ESPN.
Dalam laporannya, Ogden menuliskan bahwa, sejak awal 2000-an, Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) membangun sistem pembinaan pemain usia muda secara terpusat. Setiap tahun, sekitar 55 pemain terbaik usia 14–15 tahun dipilih untuk menjalani pemusatan pelatihan taktis dan teknis dengan metode yang seragam.
Koordinator divisi pembinaan pemain muda RFEF, Gines Melendez, menjelaskan bahwa dari usia 15 hingga 21 tahun, para pemain ditempa dengan filosofi permainan yang sama. “Kami melatih mereka dengan cara yang persis sama. Sepak bola kami didefinisikan oleh keteraturan dan bakat,” kata Gines.
Hasilnya terlihat dalam empat tahun terakhir. Spanyol mencapai semifinal Euro 2021, final UEFA Nations League 2021, menembus 16 besar Piala Dunia 2022, dan menjuarai UEFA Nations League 2023 serta Euro 2024. Di level Olimpiade, mereka meraih medali perak 2021 dan medali emas 2024. Musim ini, Spanyol kembali ke final UEFA Nations League 2025.
Sepanjang periode itu, De la Fuente telah menggunakan 63 pemain berbeda, sebagian besar jebolan akademi muda Spanyol. Awalnya para pemain ini diragukan, tetapi kini justru menjadi pemain inti tim nasional. Keakraban dan kontinuitas dalam kepelatihan juga berperan penting.
Mantan gelandang Spanyol Juan Mata menilai bahwa De La Fuente mengenal sebagian besar pemain di tim nasional. “Dia mengenal sebagian besar pemain dari akademi hingga berkembang sebagai sebuah tim. Ini bukan hanya tim untuk saat ini, tetapi juga amsa depan,” ujar dia, dikutip dari BBC Sports.
Kecerdasan Bermain
Bagi Sagnol, kekuatan terbesar Spanyol bukan fisik, melainkan kecerdasan bermain. Pedri adalah contoh termutakhir. Gelandang Barcelona berpostur 174 cm, tetapi kini menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik dunia. “Dia tampak seperti bocah ingusan, tapi dia sangat cerdas. Dia melakukan semua untuk tim, menciptakan ruang, menemukan peluang, dan menjaga ritme permainan,” kata Sagnol.
Gelandang Bulgaria, Ilia Gruev, sudah merasakan kehebatan Spanyol. “Melawan Spanyol sangat sulit. Anda tidak bisa menekel mereka atau mendekat karena mereka mengoper bola terlalu cepat. Anda harus bertahan sepanjang waktu hanya untuk bisa bernapas,” ujar dia setelah kekalahan 0-4 dari La Furia Roja.
Nilai kolektivitas itu juga tercermin dari sikap pemain di lapangan. Saat Spanyol unggul atas Bulgaria, Mikel Merino menolak mengambil penalti yang bisa membuatnya mencetak hat-trick. Ia justru memberi kesempatan kepada Mikel Oyarzabal. “Ini soal kebersamaan. Kami seperti keluarga,” kata Merino usai laga.
Menurut Sagnol, Spanyol adalah tim terbaik di dunia saat ini. Yang terdekat, tim Matador bisa melenggang mulus ke Piala Dunia 2026. Mereka memimpin persaingan di Grup E dengan empat kemenangan dari empat laga. Spanyol juga telah mencetak 15 gol tanpa kebobolan. “Spanyol, dan juga Portugal, adalah dua model sepak bola yang seharusnya ditiru oleh setiap negara,” ucap dia.




