Dinda Hafsah Hadapi Kekecewaan saat Menunggu Pemateri Darul Arqam
Sumber Foto: Muhammadiyah
Lifestyle

Dinda Hafsah Hadapi Kekecewaan saat Menunggu Pemateri Darul Arqam

Fakta News Day - Darul Arqam Dasar IMM tingkat cabang sebentar lagi digelar. Panitia butuh pemateri untuk sesi penguatan ideologi persyarikatan. Nama Imron Rivaldi langsung muncul di grup WhatsApp panitia. Semua setuju. Tinggal satu masalah: siapa yang berani menghubungi dan mengundangnya?

Semua mata langsung tertuju ke Dinda Hafsah Mewangi.

“Kan kamu satu desa, Din,” kata ketua panitia sambil nyengir jail.

Malam itu, seusai kajian rutin di kampus, Dinda memberanikan diri menuju rumah Moyo Tantular—tempat nongkrong favorit Imron sejak dulu. Dari kejauhan sudah terdengar suara gitar akustik dan tawa kecil. Begitu mendekat, Dinda melihat Imron duduk di teras sambil memetik gitar pelan, sementara Moyo nyanyi lagu-lagu Bernadya.

“Kak… Kak Imron,” panggil Dinda ragu, suaranya hampir tenggelam di antara petikan gitar.

Imron langsung berhenti memetik, menoleh, lalu tersenyum tipis.

“Eh, Dinda. Apa kabar? Masih sibuk di IMM?”

“Kabar baik, Kak. Ini, anu…” Dinda menarik napas dalam-dalam, jari-jarinya tanpa sadar meremas ujung jilbab. “IMM mau ada DAD bulan depan. Teman-teman sepakat mau minta Kak Imron jadi pemateri penguatan ideologi gitu. Apa bisa, Kak?”

Imron mengangguk pelan, tampak berpikir sejenak. “Boleh. Menarik itu. Tapi nanti detailnya kabari lagi ya. Boleh minta nomor WhatsApp kamu? Biar gampang koordinasinya.”

Moyo yang dari tadi cuman mangap nyeletuk tanpa dosa, “Halah, jurus lama! Bilang aja mau modus, Mron. Pura-pura koordinasi, ujung-ujungnya nanya ‘kamu udah pernah baca novel Tere Liye yang serial Bumi belum?’”

Dinda tertegun, mengabaikan ocehan Moyo. “Lho, Kak Imron kan sudah punya nomor Dinda dari zaman aku maba dulu?”

Imron tertawa canggung sambil merogoh saku celananya, mencari-cari ponselnya yang entah di mana. “Waduh, maaf ya, Nda. Kemarin HP-ku ganti, datanya nggak semua sempat tersimpan. Jadi kontak lama banyak yang hilang, termasuk punyamu kayaknya.”

“Pantesan…” gumam Dinda pelan, hampir tak terdengar.

“Pantesan apa?” tanya Imron bingung.

“Yaudah deh nanti aku kirimi TOR acaranya, ya, Kak. Makasih banyak ya.”

“Sama-sama. Hati-hati pulangnya.”

Begitu sosok jilbab pastel itu hilang di tikungan jalan, Imron langsung meletakkan gitarnya dan berdiri. Ia merapikan jaketnya dengan gerakan terburu-buru.

Moyo langsung menyipitkan mata, senyumnya makin lebar seperti kucing yang baru nemu ikan asin. “Wah, buru-buru banget nih. Baru aja dapet nomor ulang, langsung pengen tes sinyal?”

“Berisik lu kentang goreng,” ujar Imron sambil jalan kaki meninggalkan rumah Moyo.

Sesampainya di rumah, bahkan sebelum sempat melepas jaket, Imron langsung membuka ponsel. Nama kontak “Dinda: Istri Masa Depan” disimpan dengan rapi. Detik berikutnya, jarinya ragu sejenak di atas keyboard, lalu mengetik:

“Salam. Dinda, coba kirim TOR-nya sekarang ya. Sama kalau ada bahan bacaan awal buat kader, sekalian dikirim.”

Tak sampai dua menit, balasan datang.

“Waalaikumsalam, Kak! Iya nih, bentar ya aku kirim file-nya. Makasih lagi ya udah mau jadi pemateri.”

“Dinda, ini TOR-nya lumayan kompleks ya. Kayaknya kalau cuma lewat teks bakal banyak salah paham. Gimana kalau telepon sebentar? Biar enak briefing konsepnya. Takutnya ideologi yang aku sampaikan nggak sinkron sama tema besarnya.”

Modus klasik. Alasan “koordinasi” adalah tameng terkuat bagi seorang kader yang sedang dilanda rindu terpendam. Tak lama, ponsel Imron bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Dinda.

“Halo, Kak Imron? Maaf ya, emang agak ribet sih konsep DAD kali ini,” suara Dinda di seberang sana terdengar lembut, sedikit gugup.

“Nggak apa-apa, Din. Namanya juga mengurus persyarikatan, harus detail,” jawab Imron, suaranya dibuat seberwibawa mungkin meski jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Setelah sepuluh menit membahas teknis acara, suasana mulai mencair. Obrolan yang tadinya kaku soal administrasi organisasi perlahan bergeser ke arah yang lebih santai. Dinda, entah karena terbawa suasana atau memang ingin tahu, tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang cukup filosofis.

“Sebenernya… aku mau nanya yang pribadi dikit, Kak. Boleh nggak? Soalnya aku sering mikir, gimana sih caranya gabung Muhammadiyah yang bener? Maksudnya, nggak cuma ikut-ikutan pengajian doang, tapi beneran jadi bagian dari persyarikatan.”

Imron tersenyum di seberang telepon, suaranya langsung lebih hangat.

“Bagus banget pertanyaannya, Nda. Mulai dari yang paling dasar dulu ya: niat. Niat ikut menebar manfaat lewat kegiatan keagamaan dan sosial. Itu fondasinya. Kalau niatnya sudah ada, langkah selanjutnya tinggal action.”

“Action-nya gimana, Kak?”

“Hadir langsung ikut pengajian rutin, bakti sosial, aksi kemanusiaan, aktif di kegiatan masjid atau ortom-ortomnya seperti IMM, Nasyiatul Aisyiyah, atau yang lain. Mulai dari yang kecil-kecil aja, misal bantu ngaji anak-anak TPA, ikut gotong royong membersihkan lingkungan, atau jadi relawan saat ada bencana.”

Dinda terdengar mengangguk-angguk meski tak terlihat. “Aku udah sering ikut sih yang kayak gitu. Tapi rasanya masih kurang… resmi gitu, Kak.”

“Kalau mau yang lebih ‘resmi’ lagi, bisa jadi simpatisan dulu. Support dengan memberi apresiasi, menyediakan tempat kalau ada acara, ikut urun dana untuk program-program Muhammadiyah. Banyak kok yang mulai dari situ.”

“Terus kalau mau yang sempurna gimana, Kak?”

Imron tertawa pelan, suaranya terdengar santai tapi ada nada bercanda yang halus.

“Kalau mau yang sempurna, ya emang harus bikin KTAM, aktif di Muhammadiyah berbagai tingkatan. Dari ranting, cabang, sampai kalau mau naik level lagi, ikut struktur pimpinan. Tapi…”

Imron sengaja jeda, membuat Dinda penasaran.

“Tapi apa, Kak?”

“Kalau mau yang lebih sempurna lagi… nikah dengan sesama kader Muhammadiyah.”

Dinda langsung tersedak tawa di seberang sana, suaranya campur antara malu dan geli. “Kak Imron ini! Serius apa bercanda sih?”

“Serius kok,” jawab Imron cepat, tapi nada suaranya jelas-jelas sedang tersenyum lebar. “Kan biar loginnya full access. Dari pagi sampai malam, dari pengajian sampai urusan rumah tangga, semuanya selaras dengan nilai-nilai persyarikatan. Efisien, berkah, dan… sejuk.”

Dinda masih tertawa kecil, tapi kali ini suaranya lebih lembut. “Ya Allah… tips login Muhammadiyah level dewa nih.”

Telepon berlangsung hampir satu jam. Dari materi acara, ke cerita kecil tentang masa kuliah, sampai akhirnya berakhir dengan ucapan selamat malam yang hangat.

Hari-H pun tiba. Darul Arqam Dasar IMM tingkat cabang digelar di aula kampus Muhammadiyah yang besar. Peserta sudah memenuhi ruangan. Panitia sibuk mondar-mandir, sound system dites berulang-ulang, slide presentasi sudah standby di laptop.

Di acara itu, Dinda tampil dengan fashion yang nyaris sempurna. Ia mengenakan hijab pastel dengan spek “yali yalili”. Kalau dia lagi di mal pasti dicegat sama orang asing hanya untuk ditanya, “Kak, spill harga skincare-nya dong.” Dan Dinda, dengan kerendahan hati yang sedikit dibuat-buat, pasti akan menjawab, “Cukup pakai air keran aja, Kak.”

Jam sudah menunjukkan waktu-waktu genting. Dinda berdiri di pintu masuk aula, matanya bolak-balik ke jam tangan. Jam 13.45. Sesi penguatan ideologi dijadwalkan pukul 14.00. Imron seharusnya sudah datang setengah jam sebelumnya.

“Din, mana pematerinya?” tanya ketua panitia sambil mendekat, wajahnya mulai tegang.

“Masih otw, Kak. Tadi pagi dia bilang sudah siap,” jawab Dinda sambil berusaha tenang, meski jarinya sudah menekan tombol panggil Imron untuk kesekian kalinya.

Tidak diangkat.

Pesan WhatsApp terkirim, centang dua, tapi tidak ada balasan.

Dinda coba lagi. Panggilan kedua. Ketiga. Keempat. Tetap tidak ada jawaban.

Panitia mulai gelisah. Peserta sudah duduk rapi, MC sudah naik panggung mempersiapkan pembukaan. Dinda merasa jantungnya seperti drum yang dipukul tak beraturan. Ia membayangkan segala kemungkinan: macet, HP mati, sakit mendadak, atau… jangan-jangan Imron salah alamat aula?

Dinda akhirnya keluar aula, berdiri di koridor sambil menatap layar ponsel dengan harap-harap cemas. Ia kirim pesan lagi:

“Kak Imron, ini udah jam 13.55. Peserta udah nunggu. Kak di mana? Tolong balas ya!”

Dinda berdiri di koridor aula, punggungnya bersandar ke dinding dingin, ponsel masih digenggam erat. Jam sudah menunjukkan 14.15. Peserta di dalam mulai berbisik-bisik, ada yang keluar mencari angin, ada yang main HP sambil menunggu. Ketua panitia mondar-mandir seperti ayam kehilangan anak, sesekali melirik Dinda dengan tatapan campur antara kasihan dan kesal.

Dinda tidak lagi menelepon. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di dada: campuran kecewa, malu karena sudah terlalu berharap, dan sedikit marah yang tak bisa ia ungkapkan.

Sesi penguatan ideologi akhirnya benar-benar kosong. Tidak ada pemateri pengganti. Ruangan yang tadinya penuh antusiasme perlahan berubah jadi hening yang canggung. Beberapa peserta saling pandang, ada yang tersenyum kecut, ada yang langsung membuka HP dan scroll Instagram.

Dinda berdiri di pojok aula, dekat pintu keluar, tangannya memeluk tas selempang erat-erat sampai buku jarinya memutih. Wajahnya panas, bukan karena malu biasa, tapi malu yang dalam dan membara. Ia yang mengundang dan meyakinkan panitia bahwa “Kak Imron pasti datang, dia orang bertanggung jawab”. Ia yang pagi tadi masih sempat kirim pesan “Semangat ya Kak, aku tunggu di aula!” dengan emoji hati kecil yang sekarang terasa seperti lelucon buruk.

Dinda menunduk, mata berkaca-kaca tapi ia tahan. Ia tak mau menangis di sini. Tak mau jadi bahan obrolan lebih lanjut. Ia hanya berdiri diam, menunggu acara selesai. Menunggu hari ini berakhir. Terasa begitu lama.

Akhirnya, pukul 16.09, ponsel Dinda bergetar. Bukan panggilan, tapi notifikasi WhatsApp dari Imron.

“Astaghfirullah… Nda, maaf banget. Aku baru bangun. Tadi ketiduran seharian, HP silent mode. Aku nggak tahu kalau hari ini kajiannya. Serius, aku kira masih besok. Maafin ya, Nda. Aku lagi buru-buru ke sana sekarang, tapi kayaknya udah telat banget…”

Dinda menatap pesan itu lama. Jarinya bergetar di atas keyboard. Ia ingin mengetik panjang lebar, ingin marah, ingin bilang betapa repotnya panitia, betapa malunya ia di depan teman-teman, betapa ia sudah menunggu dengan harap-harap cemas.

“Kak, yang kamu lakuin ke aku itu, jahat.”