Coklat Kita Silatusantren: Memperkuat Kolaborasi Budaya dan Pendidikan di Bulan Ramadan
Sumber Foto: Radar Bandung
Sosial

Coklat Kita Silatusantren: Memperkuat Kolaborasi Budaya dan Pendidikan di Bulan Ramadan

Fakta News Day - RADARBANDUNG.ID, KAB. CIAMIS – Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan resmi dimulai dari Pondok Pesantren Darussalam Ciamis menjadi titik pembuka awal rangkaian kegiatan silaturahmi pesantren di berbagai daerah. Program Silatusantren mengusung semangat Ramadan melalui kolaborasi pendidikan, budaya, dan penguatan nilai sosial di lingkungan santri.

Pemilihan Darussalam menjadi lokasi pembuka bukan tanpa pertimbangan. Pesantren tertua di Kabupaten Ciamis yang dikenal memiliki fondasi kuat dalam menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus mengembangkan pendekatan kebudayaan sebagai bagian dari pendidikan karakter santri.

Acara yang dimulai sejak sore hari, diikuti ribuan santri, mahasiswa, pengasuh pondok, hingga masyarakat umum yang memadati area pesantren. Rangkaian kegiatan diawali pembagian takjil, dilanjutkan buka puasa bersama, dialog budaya, serta pertunjukan seni religi yang menghadirkan suasana Ramadan yang hangat dan inklusif.

Dialog budaya menjadi agenda utama yang menyedot perhatian peserta. Sejumlah tokoh lintas bidang hadir berbagi gagasan, di antaranya budayawan Budi Dalton dan Zastrouw Al Ngatawi bersama ulama KH. Choirul Anam MZD serta KH. Deni Ahmad Haidari. Acara dipandu Prima Ramadhan dan turut dimeriahkan penampilan seni religi Bhattara Sena.

Budi Dalton menilai pesantren merupakan mata air kebudayaan Indonesia.

“Pesantren tidak hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga menyimpan sistem pengetahuan, nilai sosial, serta kearifan lokal yang relevan bagi generasi muda di tengah perubahan zaman,” ujar Budi Dalton saat ditemui di Pondok Pesantren Darussalam, Kec. Cijeungjing, Kab. Ciamis, Sabtu (28/2/2026).

Baca juga: Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, PLN Dukung Penanaman 1.200 Bibit Pohon Produktif di Karawang

Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, KH. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi yang akrab disapa Aang Icep menegaskan seni dan budaya sejak lama menjadi bagian integral dari proses pendidikan di pesantren.

Aang Icep menyebut kegiatan silaturahmi santri bukan sekadar seremoni, melainkan ikhtiar membangun keberkahan umat melalui ruang pertemuan antara nilai agama dan kebudayaan.

“Pesantren harus tetap hidup dan adaptif agar santri memiliki kepekaan sosial dan kultural dalam menghadapi dinamika masyarakat modern,” ucap Aang Icep.

Sementara itu, Perwakilan Coklat Kita, Yudi Wate Angin menjelaskan Darussalam dipilih karena memiliki ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang kuat.

Yudi Wate Angin menegaskan Coklat Kita Silatusantren dirancang menjadi wadah kolaborasi yang memadukan edukasi, kepedulian sosial, serta hiburan positif bagi komunitas santri.

Baca juga: Gelombang Demo Mahasiswa di Jabar, Silakan Kritik Pemerintah Asal Tetap Konstruktif

Setelah pembukaan di Ciamis, rangkaian kegiatan akan berlanjut ke Pondok Pesantren Cipulus dan Pondok Pesantren Al-Ittihad yang menjadi bagian dari agenda silaturahmi Ramadan 2026.

Bagi para santri, Darussalam memiliki makna historis sekaligus emosional. Salah seorang santri, Doni Rizwanto yang telah menempuh pendidikan selama tujuh tahun di Pesantren Darussalam sekaligus mahasiswa di Universitas Islam Darussalam menyebut Darussalam memiliki karakter khas sebagai pesantren tertua di Ciamis dengan jaringan alumni yang telah berkiprah hingga tingkat internasional.

Selain itu, santri putri, Kayla Azka Nadhifah, turut menyambut positif kegiatan Coklat Kita Silatusantren.

Menurut Kayla, pendekatan dakwah di Darussalam tidak hanya dilakukan melalui pengajian formal, tetapi juga lewat musik religi yang sarat pesan moral.

Kegiatan Coklat Kita Silatusantren dihadiri Sekretaris Daerah Ciamis, Andang Firman Triyadi, Ketua DPRD Ciamis, Nanang Permana, serta perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama yang menjadi simbol dukungan lintas sektor terhadap penguatan peran pesantren di masyarakat.

Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan, pesantren kembali menegaskan posisinya bukan hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga ruang temu antara santri, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha dalam membangun kebersamaan Ramadan yang inklusif dan berkelanjutan. (dsn)