Bradley Cooper Eksplorasi Kerentanan Hubungan dalam 'Is This Thing On?'
Sumber Foto: Sortir à Paris
Hiburan

Bradley Cooper Eksplorasi Kerentanan Hubungan dalam 'Is This Thing On?'

Ulasan Kami tentang Is This Thing On ?

Dengan Is This Thing On?, Bradley Cooper melanjutkan eksplorasi pribadi yang sebelumnya dia mulai dalam Maestro, kali ini menyoroti keretakan hubungan bukannya awal sebuah mitos. Didukung oleh Will Arnett dan Laura Dern, film ini mengikuti kisah Alex dan Tess, pasangan yang telah menikah lebih dari dua puluh tahun dan merupakan orang tua dari dua anak. Mereka berada di titik kritis: saling mencintai, tetapi tidak lagi bahagia. Terinspirasi dari kisah nyata, cerita ini menceritakan usaha Alex untuk menemukan jalan baru melalui stand-up comedy — bukan demi ketenaran, melainkan sebagai bentuk napas baru.

Pada beberapa menit awal, Cooper menampilkan tempo perlahan dan penuh introspeksi. Di sini, tidak ada momen dramatis yang meledak atau teriakan yang menghanguskan suasana. Film lebih banyak berfokus pada rutinitas sehari-hari, kadang hampir obsesif — mulai dari adegan keluarga yang menyikat gigi bersama yang menjadi motif aneh dan penuh arti. Ritual ini melambangkan kebiasaan, mekanisme rumah tangga yang masih berjalan, meski semangatnya tampak melemah. Pasangan ini tidak runtuh, mereka meluruh secara perlahan.

Pengarahan kamera menyesuaikan dengan kerentanan ini. Cooper merekam keheningan, tatapan yang menghindar, serta naik-turun emosi kecil dengan perhatian hampir seperti dokumenter. Pengambilan gambar sering kali berada di tingkat mata manusia, menangkap keragu-raguan lebih dari sekedar kata-kata. Seperti dalam Maestro, ini bukan soal menilai, melainkan mengamati. Pertanyaan mendasar yang mengalir sepanjang film — apa yang harus dilakukan saat cinta masih ada, tapi kebahagiaan hilang? — jawaban yang diberikan pun kompleks dan tidak pernah mutlak.

Stand-up kemudian menjadi cermin. Adegan open mic dan klub komedi bukan dibuat sebagai momen kemenangan, melainkan sebagai ruang untuk membuka diri. Alex tidak tiba-tiba berubah menjadi jenius stand-up, film sengaja menjaga ketidakpastian tentang sejauh mana sebenarnya bakatnya. Apakah dia lucu atau hanya sedang mencari pelarian? Ketidakpastian ini menjadi bagian utama dari perdebatan kritis terhadap film. Cooper tampaknya lebih tertarik pada apa yang diungkapkan oleh panggung — menyalurkan apa yang tak lagi bisa diungkapkan di rumah.

Will Arnett tampil mengejutkan dalam peran yang lebih tenang dari biasanya. Alex-nya tampak canggung, menyentuh hati, kadang menyedihkan, tapi sama sekali bukan pahlawan. Laura Dern, sebagai lawan main, memvisualisasikan seorang wanita yang lelah tetapi jernih, berayun antara kelembutan yang tersisa dan kebutuhan untuk melindungi diri. Chemistry mereka sangat halus dan tepat: tidak berlebihan, semuanya terukur. Adegan saat ibu Alex menyatakan kekesalannya terhadap kepergian putranya ke panggung — “I had no idea your life is so bad” — merangkum jarak antara persepsi luar dan ketidaknyamanan batin yang mendalam.

Musik latar yang halus namun penuh makna — terutama saat anak-anak bermain Under Pressure — menyentuh ketegangan tegang yang meresap di rumah ini, tanpa pernah berlebihan. Film ini lebih berbicara tentang tekanan diam-diam, perasaan tercekik yang perlahan menyelimuti tanpa dramatisasi, tetapi penuh pengungkapan.

Is This Thing On? ditujukan untuk penonton yang peka terhadap drama pasangan yang bernuansa, kisah yang lebih menonjolkan kompleksitas emosional daripada kekuatan naratif. Mereka yang mencari komedi romantis yang ritmis atau film stand-up yang spektakuler mungkin akan merasa bingung: film ini lambat, kontemplatif, kadang hampir statis. Sebaliknya, para penonton yang tertarik dengan dinamika hubungan jangka panjang, transisi kehidupan, dan zona abu-abu dalam cinta akan menemukan karya yang halus dan sangat manusiawi.

Kendala utama mungkin terletak pada sedikit rasa lambat dalam penyajian maupun beberapa lompatan dalam gambaran dunia stand-up. Tapi kekuatannya ada di sana: dalam keberanian untuk tidak menyederhanakan. Cooper menyajikan sebuah film dewasa, lembut, yang menerima bahwa beberapa cerita tidak berakhir dengan kemenangan besar, melainkan dengan kesadaran yang mengubah cara pandang.