Bioskop Sinewara, Bioskop Milik Negara Pertama di Indonesia
MPN Indonesia 24 Februari 2026 - PT Produksi Film Negara (PFN) (Persero) akan membangun bioskop milik negara pertama di Indonesia yang diberi nama Sinewara.
Proyek ini diumumkan oleh Direktur Utama PFN, Riefian Fajarsyah atau dikenal sebagai Ifan Seventeen, dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI pada Senin (2/2).
Bioskop Sinewara akan dibangun di kawasan kantor PFN, Jalan Otista Raya, Jatinegara, Jakarta Timur.
Rencana pembangunan bioskop Sinewara ini ditujukan sebagai pilot project guna mendorong peningkatan jumlah bioskop nasional serta mengatasi keterbatasan infrastruktur layar di berbagai daerah.
“InsyaAllah, PFN akan mendirikan bioskop negara pertama yang bernama Sinewara yang berlokasi di Otista, itu di PFN,” ujar Ifan, dikutip MPN Indonesia melaui kanal YouTube TVR parlemen pada Selasa, (24/2).
Meski belum disebutkan waktu pasti dimulainya pembangunan, PFN menargetkan bahwa bioskop Sinewara dapat menjadi pemicu hadirnya jaringan bioskop milik negara di daerah lain.
“Jadi ini sebagai pilot project untuk bioskop negara pertama. Semoga ini bisa menjadi stimulan dan juga trigger untuk daerah-daerah lain ikut mengembangkan bisnis bioskop negara ini, dengan cara bergabung sebagai shareholder, ” ucap Ifan.
Jumlah Bioskop Nasional Masih Minim dan Terpusat di Jawa
Berdasarkan data internal PFN, saat ini Indonesia hanya memiliki sekitar 505 lokasi bioskop dengan total 2.401 layar.
Persebaran bioskop sangat tidak merata, dengan proporsi terbesar berada di Pulau Jawa sebanyak 70%, diikuti oleh Sumatra 15%, dan Kalimantan 5%.
Sebaran bioskop di tingkat kabupaten/kota juga tergolong rendah.
“Tingkat penyebarannya sangat tidak rata bahkan hanya 25-30 persen daripada kabupaten kota yang ada di Indonesia mempunyai layar,” papar ifan.
Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan infrastruktur hiburan di luar kota-kota besar.
Jika dibandingkan dengan negara lain seperti India, China, dan Amerika Serikat, Indonesia dianggap sangat tertinggal dalam jumlah layar bioskop.
“Idealnya jika dibandingkan dari India, China maupun USA harusnya Indonesia itu mempunyai 20.000 layar yang menjadi target betul kata Mas Angga setengahnya 10 ribu layar,” jelas Ifan dalam rapat tersebut.
Didorong Kebutuhan Distribusi Film Lokal
Kehadiran Sinewara juga merupakan respons terhadap kebutuhan industri film lokal yang saat ini mengalami keterbatasan ruang tayang.
“Rencananya Sinewara nanti akan exclusively menayangkan film Indonesia,” ujar ifan.
Dalam satu tahun, produksi film lokal dapat mencapai 200 judul, namun banyak di antaranya tidak mendapat jatah tayang yang cukup akibat minimnya jumlah layar.
Persaingan penayangan film sangat ketat, dan bioskop swasta kerap menurunkan film dari layar apabila tidak memenuhi standar penonton minimal.
Hal ini memicu sebagian produser melakukan berbagai cara agar film mereka bertahan lebih lama di bioskop.




