Tips Puasa Sehat bagi Penderita GERD dari Dokter RSUD Mataram
Fakta News Day - MATARAM, RadarBangsa.co.id – Penderita penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) kerap menghadapi dilema saat Ramadan. Di satu sisi ingin menjalankan ibadah puasa secara penuh, namun di sisi lain khawatir gejala kambuh akibat perubahan pola makan dan lambung kosong dalam waktu lama.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Larangga Gempa B, Sp.PD, FINASIM, F.Onkologi, menegaskan bahwa penderita GERD tetap dapat berpuasa selama mampu mengatur pola makan dan gaya hidup secara tepat.
Menurutnya, puasa justru berpotensi membantu memperbaiki kesehatan lambung apabila dilakukan dengan pola konsumsi yang terkontrol.
“Puasa aman bagi penderita GERD selama makanan yang dikonsumsi tepat dan tidak berlebihan saat berbuka,” ujar dr Larangga, Sabtu (28/2/2026).
Ia menjelaskan, kunci utama dimulai sejak sahur. Penderita GERD disarankan mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi putih atau nasi merah, disertai protein sehat seperti telur rebus, ikan, maupun daging tanpa lemak.
Selain itu, asupan serat dari sayuran hijau yang rendah gas seperti kangkung dianjurkan, sementara sayur pemicu kembung seperti kol dan kembang kol sebaiknya dihindari. Konsumsi air putih minimal dua hingga tiga gelas saat sahur juga penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.
dr Larangga menekankan agar masyarakat menghindari makanan berlemak tinggi, gorengan, makanan pedas, serta makanan asam yang dapat memicu peningkatan produksi asam lambung. Obat GERD juga dianjurkan diminum sekitar 30 menit sebelum makan.
Saat berbuka puasa, penderita GERD disarankan memulai dengan air putih dan buah secukupnya seperti kurma atau semangka sebelum makan utama. Minuman bersoda dan makanan pedas tetap perlu dihindari.
Jika gejala asam lambung muncul saat berpuasa, penderita dapat beristirahat, melakukan kompres hangat di area perut, atau mengonsumsi obat golongan antasida maupun H2 blocker sesuai anjuran dokter.
Namun, ia mengingatkan bahwa kesehatan tetap menjadi prioritas utama.
“Jika gejala memberat dan tidak tertahankan, maka diperbolehkan membatalkan puasa demi keselamatan kesehatan,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Lamongan Catat Surplus Rp41 Miliar dan Raih WTP ke-10, Bupati Yes Sampaikan Pertanggungjawaban APBD 2025
Bukan Jakarta, Jatim Justru Jadi Raja AI di GARUDA Impact Summit 2026
Jatim Raih Dua Penghargaan Nasional GARUDA AI Impact Summit 2026, Khofifah Percepat Transformasi Pemerintahan Berbasis AI
Tongkat Komando Yonkes 2 Kostrad Resmi Berganti, Wabup Malang Soroti Pentingnya Sinergi TNI dan Daerah
Bangkalan Punya Fakultas Kedokteran Pertama, UTM Resmi Buka Pendidikan Dokter Saat Dies Natalis ke-25
Penulis : Aini
Editor : Zainul Arifin




