Bojonegoro Tetap di Peringkat 30 dalam Peta Pendidikan Tinggi Jatim 2025
Fakta News Day - Angkanya bergerak. Tetapi posisinya belum.
damarinfo.com – Tahun 2024, persentase penduduk usia 15 tahun ke atas di Bojonegoro yang menamatkan pendidikan perguruan tinggi tercatat 5,99 persen. Setahun kemudian, 2025, angkanya naik menjadi 6,37 persen.
Ada kenaikan 0,38 poin persentase. Secara angka, ini kabar baik.
Namun ketika data itu diurutkan di antara 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, hasilnya tetap sama:
Bojonegoro berada di peringkat 30. Baik pada 2024 maupun 2025. Naik, tetapi tidak beranjak.
Jawa Timur: Bergerak ke 9,29 Persen
Secara provinsi, tren memang menunjukkan perbaikan. Tahun 2024, lulusan perguruan tinggi di Jawa Timur berada di angka 8,66 persen. Tahun 2025 naik menjadi 9,29 persen.
Namun angka ini tetap menyimpan satu kenyataan: dari setiap 100 penduduk dewasa di Jawa Timur, hanya sekitar 9 orang yang lulusan perguruan tinggi.
Mayoritas masih berhenti di jenjang SMA atau di bawahnya. Pendidikan tinggi masih menjadi lapisan kecil dalam struktur pendidikan masyarakat. Dan dalam struktur yang kecil itu, distribusinya tidak merata.
Kota Melaju, Kabupaten Tertinggal
Jika melihat peringkat 2025, enam besar seluruhnya kota:
Kota Madiun (21,76%)
Kota Malang (23,28%)
Kota Surabaya (21,42%)
Kota Mojokerto (19,90%)
Kota Kediri (17,53%)
Kota Blitar (18,50%)
Angka mereka berada di atas 17 persen, bahkan ada yang menembus 23 persen. Bandingkan dengan banyak kabupaten yang masih berkutat di angka 5–7 persen. Jurangnya bukan tipis. Ini jurang struktural.
Bojonegoro dalam Lanskap Barat Jawa Timur
Di kawasan barat Jawa Timur, peta pendidikan tinggi 2025 terlihat seperti ini:
Lamongan: 8,95% (peringkat 15)
Tuban: 6,52% (peringkat 27)
Ngawi: 6,45% (peringkat 29)
Bojonegoro: 6,37% (peringkat 30)
Nganjuk: 6,12% (peringkat 31)
Hanya Lamongan yang mampu menembus papan tengah. Empat lainnya berada di papan bawah.
Menariknya, Tuban justru melompat dari peringkat 31 (2024) ke 27 (2025). Lamongan naik satu tingkat. Ngawi dan Nganjuk turun. Sementara Bojonegoro tetap. Tetap di angka enam persen. Tetap di posisi 30.
Naik Angka, Tapi Kompetisi Juga Bergerak
Kenaikan 0,38 poin di Bojonegoro sebenarnya menunjukkan ada pertumbuhan. Tetapi dalam kompetisi relatif, daerah lain juga bergerak. Ketika semua naik bersama-sama, siapa yang naik lebih cepat akan menyalip.
Dan di sinilah kuncinya: kenaikan Bojonegoro belum cukup cepat untuk menggeser posisi.
Apa Arti 6,37 Persen?
Angka itu berarti sederhana:
Dari 100 penduduk usia 15 tahun ke atas di Bojonegoro, hanya sekitar 6 orang yang lulusan perguruan tinggi.
Sementara rata-rata Jawa Timur hampir 9 orang. Sementara kota-kota besar sudah 20 orang lebih.
Dalam konteks pembangunan, indikator ini berkaitan langsung dengan:
Ketersediaan tenaga profesional
Kualitas manajerial
Daya saing investasi
Transformasi ekonomi berbasis pengetahuan
Jika struktur pendidikan tinggi tidak tumbuh lebih cepat, maka ketimpangan kualitas SDM akan tetap ada.
Dua Tahun, Satu Pola
Data 2024 dan 2025 memberikan satu pesan yang jelas: Bojonegoro tidak stagnan. Tetapi juga belum berakselerasi.
Naik, tetapi belum cukup untuk mengubah posisi.
Dalam pembangunan manusia, kadang yang menentukan bukan hanya apakah angka meningkat, melainkan apakah ia meningkat lebih cepat dari yang lain.
Dan di peta pendidikan tinggi Jawa Timur hari ini, Bojonegoro masih berada di barisan bawah—dengan ruang perbaikan yang masih sangat lebar.




